Fakta hidup kebanyakan umat TUHAN menunjukkan, bahwa apa yang dikatakan dalam
Alkitab, FIRMAN TUHAN, dengan kehidupan pribadi umat TUHAN tersebut masing-masing
secara pribadi adalah dua hal yang tidak memiliki koneksi yang berarti, bahkan bertolak
belakang satu sama lain. Keadaan ini sangat memprihatinkan dan berbahaya. Namun oleh karna
belum dan tidak menemukan contoh ada orang yang mengalami realita hidup sesuai dengan
FIRMAN TUHAN, atau oleh sebab-sebab lain yang senada, membuat mereka tidak ingin
menemukan ‘solusinya’. Tentu, keadaan yang demikian tidak boleh kita biarkan, melainkan kita
harus berdoa dan berusaha untuk menemukan ‘jawabannya’. Dan inilah jawabannya:
Salah satu penyebab persoalan tersebut adalah FIRMAN TUHAN atau Alkitab yang kita baca
dan yang kita dengar, tidak dibaca dan didengar dengan ‘hati’. ‘HATI’ di sini sama dengan
‘roh’ kita atau dengan kalimat lain, apa yang kita baca dan dengar dari FIRMAN TUHAN tidak
diterima dengan segenap hati. Memang pembacaan dan pendengaran kita membuat kita
bertambah secara pemahaman dan kita bertambah dalam ‘pengetahuan’ Alkitab.
Namun antara bertambahnya pengetahuan Alkitab dengan bertambah dalam iman adalah dua hal
yang berbeda. Memang ada hubungan diantara keduanya, namun secara prinsip keduanya sangat
berbeda.
Perbedaan itu terletak pada hasil akhir yang diperoleh masing-masing, yang satu mengalami
‘realitas FIRMAN’ atau ‘realitas TUHAN’, sedang yang lainnya tidak, selain ‘kesombongan’
belaka. Kalo begitu, pertanyaan pentingnya adalah ‘apa yang membuat pendengaran atau
penerimaan dengan hati itu menjadi sangat berdaya guna terhadap FIRMAN yang
didengar?’
Pertama, Essensi FIRMAN TUHAN yang kita baca atau yang kita dengar dari Alkitab adalah
‘bersifat rohani’ atau ‘Roh dan hidup’ adanya (Yohanes 6:63). Ini memberi implikasi yang
sangat penting, maksudnya FIRMAN tersebut hanya bisa ‘beroperasi’ dengan sepenuhnya
apabila diterima dengan ‘segenap hati’ atau ‘dengan roh’ kita, artinya ‘dengan kemauan dan
keputusan yang bulat’. Karna FIRMAN itu Roh dan Hidup, kita harus menerima-Nya dengan roh
atau dengan hati kita (ingat, hati adalah kesadaran tentang diri sendiri). Di situlah FIRMAN
TUHAN mendapat tempat yang semestinya untuk bertumbuh dan berbuah. ‘Bertumbuh’ di sini
artinya FIRMAN itu menyatu dan mendominasi hidup kita (selama seseorang mempertanyakan
FIRMAN yang dibaca atau yang didengar, berarti FIRMAN tersebut belum menyatu dan
mendominasi dirinya). Berbuah artinya: membawa ‘perubahan hidup’ yang nyata. Hal itulah
yang menjadikan kita ‘saksi-saksi-Nya’ TUHAN, bukan hanya bersaksi dengan lisan saja.
Kedua, FIRMAN TUHAN adalah kebutuhan vital hidup kita yang melebihi kebutuhan jasmani
kita akan makan dan minum (Matius 4:4). Prinsip ini harus kita sadari dan terima sepenuhnya,
sehingga kita tersadarkan akan ketergantungan penuh kita kepada FIRMAN TUHAN untuk
hidup. ‘Ketergantungan penuh’ ini akan ditandai dengan adanya ‘keterbukaan dan rasa lapar’
akan FIRMAN TUHAN tersebut. Orang yang hidup bergantung kepada FIRMAN TUHAN
adalah orang yang ‘menggunakan’ FIRMAN TUHAN untuk hidup melebihi orang-orang
dunia menggunakan fasilitas di dunia ini untuk menunjang kelangsungan hidupnya.
Ketiga, percaya dengan hati di sini sama dengan ‘hidup berdasarkan iman’; maksudnya
keyakinan terhadap apa yang FIRMAN TUHAN katakan itu ‘benar sepenuhnya’ adalah modal
dasar yang harus kita miliki untuk memasuki realita FIRMAN TUHAN tersebut (1 Tesalonika
2:13). Akhirnya, manusia Allah Yang Perkasa fokuskanlah hatimu sepenuhnya kepada TUHAN
dan FIRMAN-NYA, karena itu adalah kebutuhan hidup kita yang vital dan sesungguhnya, amin.
"Kemerdekaan Sejati bukanlah HAK untuk melakukan apa yang anda inginkan, Sebaliknya, itu adalah kekuatan untuk melakukan apa yang seharusnya anda lakukan"
Minggu, 12 Juli 2015
Senin, 30 Juni 2014
NABI NUH
Nuh adalah anak laki-laki Lamekh, yang dilahirkan pada
saat Lamekh berumur 182 tahun. Ia dilahirkan
1.056 tahun setelah Adam. Menurut cerita Legenda air bah, hanya Nuh dan
keluarganya dari seluruh umat manusia yang hidup saat itu yang selamat dari banjir
bersar yang melanda bumi (Kej 6-9). Demikian menurut pilihan Allah karena kebaikan
perilaku hidup Nuh (Kalaupun tidak seterusnya dipertahankan, Kej 9:21). Di dalam
bahtera dimana keluarga Nuh berkumpul,
ada juga pasangan-pasangan (menurut sumber *P)[1]
dari berbagai jenis makhluk hidup[2].
Dari 10 Generasi setelah Adam, Nuh adalah orang ketiga yang memiliki umur
terpanjang mencapai 950 tahun. Namanya juga tercatat dalam silsilah Yesus di
Lukas 3:36.
Nama Nuh berasal dari bahasa Ibr “Noah”, yang
berarti “hinggap”, menetramkan, “berhenti”, atau “istrahat” (2 Raj 2:15; Rat
5:5; Ul 5:14),. Arti nama Nuh berdasarkan asal kata tersebut adalah “sabat”, ‘istrahat’
dan ‘penghiburan’. Alkitab hanya mencatat bahwa Nuh memiliki 3 orang anak yaitu
Sem, Ham dan Yafet. Yang dilahirkan setelah Nuh berumur 500 tahun sebelum air
bah terjadi. Ketika Sem berusia 100 tahun, 2 tahun setelah air bah ia
dikaruniakan Arpakhsad. Oleh karena itu Sem hanya berusia 98 Tahun ketika
banjir datang. Ham dikatak sebagai yang termuda.
Nuh di gambarkan sebagai orang yang
benar[3]
diantara orang-orang lain yang hidup di jamannya. Kej 6:8 mencatat “tetapi Nuh mendapat
Kasih karunia di mata Tuhan”. Dalam Kej 6:22 mungkin juga hanya menyebut
perjanjian yang di buat Allah dengan Nuh, sesudah air bah dan dimeteraikannya
dengan menganugerahkan arti baru atas pelangi (Kej 9:9-17 bnd Yes 54:9)[4]. Pada
saat itu manusia hidup bergelimang dosa sehingga Allah memutuskan untuk
menjatuhkan hukuman dengan bersabda “Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama
dengan bumi”. Akan tetapi Allah tidak menghancurkan segala-galanya. Dia memerintahkan
Nuh untuk membangun sebuah bahtera besar untuk menyelamatkan sebagian makhluk
ciptaan-Nya.
Setelah bahtera itu selesai, kitab
Kejadian menggambarkan bahwa air bah merendam bumi selama 150 hari lamanya dan
setelah itu air bah mulai surut. Nuh menunggu hingga bumi benar kering sebelum
membuka pintu bahtera. Nuh kemudian keluar bersama denga keluarga dan bersama
semua binatang yang ada didalam bahtera tersebut. Nama istri Nuh tidak disebut di dalam Alkitab,
menurut kitab Yobel[5] Namanya adalah Emzara. Tradisi
Yahudi menulis nama Istri Nuh adalah Naama (atau Naamah), Putri Lamekh dan
saudara perempuan Tubal-Kain. Demikian pula komentator Alkitab Ibrani, Rashi
yang hidup pada abad ke-11 M, dalam komentarinya mengenai Sefer Bereishis 4:22.
Sebuah Midrasih[6] dari abad
pertengahan, yang dikenal sebagai kitaYasar ( Book of Jasher 5:15), juga
menuliskan nama istri Nuh adalah Nuh adalah Naamah, putri Henokh.
Setelah Nuh di selamatkan, Allah
mengadakan perjanjian[7]
dengan Nuh dan memberkatinya. Inilah perjanjian yang pertama dikenal dan
bersifat universal karena meliputi seluruh umat manusia. Di kemudian hari,
Allah mengadakan perjanjian pula dengan Abraham, tetapi perjanjian itu dianggap
bersifat lebih khusus.
[1] Priestly Source, yang oleh mayoritas
ahli PL dipandang sebagai salah satu dari keempat sumber bahan utama dari “pentateukh”.
Bahan P dikenali karena perhatian utamanya untuk hal-hal ritul dan selalu mengutamakan Harun. P mempunyai doktrin tentang kejadian yang
menampilkan Allah yang berkuasa atas semua bangsa di dunia, dimana Abraham dan
keturunannya mempunyai suatu peran yang istimewa.
[2][2]W.R.F Browning, Kamus
Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia 2008.
[3] Tsadiq, yang memiliki kebenaran itu yang
bersumber dari iman (Ibr 11:7 he kata
pistin dikaiosyne, harfiah’ kebenaran sesuai dengan Iman) dan mempunyai
persekutuan dengan Allah seperti dinyatakan oleh uraian “dia hidup bergaul
dengan Allah” (Kej 6:9)
[4][4][4]
Ensiklopedia Masa Kini, Jili 2, (Yayasan Komunikasi Bina Kasih)
[5]Di dalam
kanon Gereja Ortodoks Ethiopia.
[6] Midrasih, adalah sebuah cara menafsirkan
Alkitab di luar pengajaran, hukum atau
moral yang sederhana. Digunakan untuk mengisi sejumlah kekosongan dalam cerita
Alkitab mengenai suatu peristiwa atau penjelasan mengenai pribadi yang hanya
disinggung sedikit.
[7]Kej 6:18 Dapat
ditafsirkan bahwa keselamatan untuk Nuh tergantung pada kesediaannya membangun
bahtera dan memasukinya, syarat yang dipenuhinya (Kej 6:22)
Konsistensi Allah
Khotbah Pdt. Bun Min Tat, S.Th
Gembala sidang GBI Glory United
Gajah Mada Plaza
Salah satu penyebab yang
paling prinsip yang membuat umat Tuhan tidak bersedia mempercayai Tuhan dengan
teguh adalah adanya persepsi yang salah tentang pribadi Allah. Persepsi yang
salah tersebut adalah bahwa Tuhan tidak konsisten dengan apa yang telah Ia katakan
sebelumnya. Hal ini memang tidak tercetus secara langsung, tetapi dalam sikap
dan tindakan sehari-hari terbukti ketika
mereka tidak bersedia berpegang teguh pada apa yang telah Tuhan sampaikan dalam
FirmanNya. Ini senada dengan menyepelakn Alkitab, ketika mereka tidak bersedia
menerima apa yang telah disampaikan kepada mereka. Khususnya berkenaan dengan
segala apa yang telah Tuhan Yesus lataan dan yang telah kerjakan bagi kita.
Persepsi yang saah
tersebut juga terlihat ketika seseorang tidak bersedia menerima sepenuhnya,
bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan yang benar sepenuhnya. Maksudnya, mereka
masih memiliki keraguan dengan apa yang telah tercatat dalam kitab suci
tersebut. Mereka cenderung meilainya sebagai pandangan atau pendapat para
penulis Alkitab belaka, maksudnya para murid Tuhan Yesus. Tentu, pandangan atau
penilaian yang demikian terhadap Firman Tuhan, Alkitab, adalah pandangan yang
salah sepenuhnya. Inilah salah satu perintang terbesar yang menghalangi mereka
mengaami realita Firman Tuhan tersebut.
Namun sebaliknya apabila kita sepenuhnya percaya dan menerima apa yang
Firman Tuhan katakan dalam Alkitab, kita dipastkan mengakui, bahwa Tuhan benar
sepenuhnya, demikian juga dengan segala yang telah dikatakanNya dalam Alkitab. Dan
sebagai dampaknya, kita pasti mengalami realita yang telah Tuhan sampaikan
dalam Firman-Nya tersebut. Inilah yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam 1 Tesalonika 2:13, “Dan karena ituah kami
tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah
menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perataan manusia,
tetapi—dan memang sungguh-sungguh demikian—sebagai firman Allah, yang bekerja
juga didalam kamu yang percaya”.
Percaya dan menerima sepenuhnya apa yang Firman Tuhan
katakan itu tidaklah berarti, bahwa kita tidak boleh menyelidiki Alkitab itu
dengan rasio atau dengan pikiran kita. Kita memang harus menggunakan rasio kita
dengan maksimal untuk membaca dan menyelidiki Alkitab kita masing-masing. Namun
hal yang paling prinsip yang harus kita ketahui adalah, bahwa kita harus
terlebih dahulu bersedia menerima segala hal yang telah Tuhan Yesus perbuat dan
yang telah diselesaikanNya bagi kita lewat kematian dan kebangkitan-Nya, tanpa
keraguan sedikitpun. Inilah yang saya maksudkan, dengan percaya dan menerimaNya
sepenuhnya apa yang Firman Tuhan katakan tersebut. Karena “Kabar Baik” yang
disampaikan kepada setiap orang, yaitu Injil Kristus, adalah keputusa final
dari Kerajaan Allah yang mutlak mengikat setiap manusia yang ada.
Ketika seseorang bersedia
menerima hal tersebut dan malah mempertanyakan dan memperdebatkannya, maka sesungguhnya
ia bukanlah orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus. Camkan hal
ini baik-baik ! Kalau ia masih tetap mengakui bahwa ia adalah orang yang percaya
kepada Tuhan, maka ia hanyalah orang yang beragama saja, yang pada hakekatnya
memungkiri kekuatan ibadahnya (2 Tim 3:5).
Allah yang kita kenal dan
yang kita sembah dan yang kita layani dalam Tuhan Yesus Kristus adalah Allah yang
paling konsisten dengan segala yang Ia katakan dan perbuat. Hal ini terlihat
dengan jelas dari masa PL sampai kepada kita di masa PB. Bahkan terlebih lagi, Ia melakukan yang
melampaui apa yang dapat kita pikirkan, yaitu membawa kita yang sepenuhnya
percaya dan menerima-Nya kepada kesempurnaan dalam Kristus (Kol 1:28-29). Ia menjanjikan
keselamatan di masa lampau, Ia menggenapi dan menyempurnakannya di masa PB. Ia menjanjikan
tanah Kanaan duniawi kepada Israel jasmani, ia memberikan tanah Kanaan Sorgawi
kepada Israel Rohani. Adam pertama membawa kematian, Adam terakhir yaitu
Kristus membawa kehidupan. Dalam Adam, kita telah kemuliaan Allah, dalam
Kristus kita memperoleh kemuliaan Allah. Karena kejatuhan Adam, dosa menguasai
manusia, karena kebangkitan Kristus kita hidup dan memerintah. Melalui Adam
kita lahir ke dunia ini, melalui Kristus kita dilahirkan dari “Dunia Atas”,
Sorga. Oleh Adam, kita menjadi penghuni di bumi ini, oleh Kristus kita adalah
warga Kerajaan Sorga. Jadi, konsistensi-Nya melampaui segala hal yang dapat
dibayangkan dan pikirkan.
Senin, 16 Juni 2014
HIdup Dalam Kebenaran Firman
Hidup
Dalam Kebenaran Firman
Oleh:
Kirenius Wadu
Pendahuluan
Berbicara
mengenai kebenaran Firman Tuhan, semua orang Kirsten akan mengatakan bahwa
Firman Tuhan itu benar adanya. Firman itu hidup dan Firman itu penuh kuasa,
entah kuasa dalam menyembuhkan, memberi kekuatan, kuasa untuk mengenal Allah
melalui CiptaanNya dengan membaca sejarah Alkitab dari Kitab Kejadian, berkuasa
untuk menuntun setiap orang yang percaya untuk tetap beriman kepada Allah.
Namun
terkadang ada begitu banyak orang-orang Kristen yang sangat sedikit memahami
kebenaran Firman Tuhan, yang hanya membacanya sambil lalu dan melewatinya
begitu saja, membaca hanya untuk mengetahui fakta sejarah saja, yang kemudian
membuat mereka tidak ada bedanya dengan orang-orang Farisi yang tahu kebenaran
namun tidak melakukannya. Tidak banyak yang dapat memaknai Firman Tuhan itu
sebagai suatu kebenaran yang hidup, penuh kuasa yang sanggup membuat mereka
dapat hidup benar karena mereka memelihara Firman itu dan begitu juga Firman
itu dapat memelihara mereka.
ISI Firman
Itulah
sebabnya begitu banyak orang kuatir akan hidupnya, merasa Tuhan tidak ada, ketika
menghadapi masalah seolah-olah mereka ditinggalkan Tuhan. Orang-orang yang
seperti ini bisa dikategorikan dalam bentuk bayi Rohani. Jika ia sudah memulai
pelayanan bertahun-tahun namun tidak ada perkembangan mengenai kedewasaan
Rohani, kemungkinan ia belum dapat menyerap Firman itu dalam dirinya, bahkan ia
belum menghidupkan Firman itu sendiri. Padahal Yesus sendiri mengatakan bahwa jangan kuatir akan apa yang kamu makan, atau
yang kamu makan dan apa yang kamu minum, sedangkan burung diudara yang tidak
bekerja saja Tuhan tetap pelihara, namun mengapa manusia perlu kuatir?
Bukankah kita manusia yang melebihi burung-burung diudara? Kalimat “jangan”
dalam perkataan Yesus tadi merupakan kalimat perintah langsung kepada kita.
Bila perlu tidak ada kekuatiran dalam hidup kita, asalkan kita memiliki
keteguhan dalam memelihara kebenaran Firman Tuhan.
Mari kita
kembali dan melihat topik yang terdapat diatas yang menjadi pembahasan kita: hidup dalam kebenaran Firman. Apa yang
membuat kita bisa tetap hidup dalam kebenaran Firman Tuhan? Dan mengapa kita
harus hidup dalam kebenaran Firman Tuhan? Atau bagaimana caranya agar kita
hidup dalam kebenaran Firman itu?
1.
Percaya akan
Firman itu ( Yoh 1-5) : terlebih dahulu kita harus memaknai maksud dari
kebenaran-kebenaran yang ditulis disini. Percaya artinya tidak hanya sekedar
ucapan dimulut saja, namun kita harus menerima dan memelihara Firman itu
menjadi suatu kebenaran yang dapat menghidupkan kita, kemudian memakan firman
itu agar kita dikendalikan oleh Firman Tuhan. Firman Tuhan itu akan dapat
mengendalikan setiap kehidupan orang-orang yang memelihara Firman Tuhan.
Pemazmur mengatakan bahwa “Diberkatilah setiap orang yang merenungkan Firman itu siang dan malam. Jadi Firman itu tidak
sekedar kita mempercayai begitu saja, tetapi mengimani dengan penuh keyakinan
teguh kepada Allah. Sebab Firman itu Adalah Yesus sendiri (Yoh 1: 14) bahkan
diam diantara kita.
2.
Hidup dalam Firman
itu sendiri (1 Yoh 1:7): akibat dari hidup dalam Firman itu ialah kita mendapat
persekutuan seorang akan yang lain, dan bahkan menyucikan kita dari segala dosa
melalui darah Yesus Kristus sendiri. Firman itu adalah terang, yang dapat
memampukan kita menjadi anak2 terang (Mat 5:13-16) sama seperti Yesus adalah
Terang itu sendiri. Dengan begitu semua orang akan melihat bahwa ooooh benar
bahwa orang ini adalah hidupnya benar. Menjadi berkat bagi banyak orang, dan
melalui kita, terang yang ada dalam hidup kita, orang dapat melihat Yesus
Kristus itu sendiri yang merupakan sumber terang sejati bagi kehidupan manusia.
3.
Tidak lagi
mengasihi Dunia (1 Yoh 2 15) : mengapa demikian ? mengapa tidak boleh mengasihi
dunia? Jika kita memahami dengan benar bahwa hidup kita ini merupakan hidup
yang sudah ditebus dengan darahNya yang mahal, tentunya kita sebagai orang
percaya tidak lagi dapat hidup hanya untuk mengasihi dunia dan segala yang ada
di dalamnya. Mengapa? Karena kita ini anak-anak Allah, kita lahir dari Allah. Dan
sebagai gelar kita sebagai anak-anak Allah kita wajib hidup sama seperti
Kristus hidup (1 Yoh 2 : 6). Rasul
Paulus juga menekan bagaimana kehidupan orang setelah menerima Kristus sebagai
Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya. Bagaimana ia menasehati jemaat yang ada
diroma untuk tidak lagi hidup dalam dosa mereka bahkan jangan membiarkan dosa
itu menguasai mereka (Rom 5:12) karena kita telah mati bagi dosa. Jika kita
masih berkompromi dengan keinginan daging kita maka hukuman kekal yang akan
kita dapat ialah “Maut” sebab keinginan daging merupakan perseteruan dengan
Allah, bahkan mereka yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepaada
Allah (Rom 8:8).
Kesimpulan:
Oleh sebab itu kita harus menyadari
penuh hidup kita di hadapan Allah. Jangan lagi kita memperhambakan diri kepada
dosa-dosa kita, sehingga dosa itu akan terus mengikat kita dan membuat kita
susah untuk berubah dan hidup dalam kebenaran Firman itu sendiri. Tetapi kita mamu membiarkan Firman itu hidup dalam
hati, pikiran bahkan seluruh hidup ini. Kita harus memiliki paradigma anak-anak
terang yang telah ditebus, berani mengatakan saya adalah anak Allah. Saya telah
dikuduskan, disucikan menjadi ciptaan yang baru. Rasul Paulus mengatakan bahwa hidupku bukannya aku lagi, melainkan Kristus
yang hidup di dalam aku. Ini menyatakan bahwa ketika kita sepenuh nya hidup
dalam Firman itu, maka Firman itu akan mengendalikan kita, dan mampu membuat
kita bertahan untuk dapat hidup didalamnya. Firman itu hidup dan sanggup
mengubah totalitas hidup kita.
Aplikasi:
Bagaimana dengan kita
saat ini, masihkah kita mau berkompromi dengan dosa kita, beribadah namun kita
munafik dihadapan Tuhan, tidak mau hidup benar? Tentunya kita menginginkan
hidup kita kelak ada bersama-sama dengan Allah dalam kerajaan Sorga yang kekal
itu dimana didalam terdapat sukacita dan damai sejahtera yang bersar dari Allah
Bapa kita. Biarkan Firman itu tertanam setiap hari dalam kehidupan kita, agar
orang-orang akan melihat hidup kita, dan mereka dapat diberkati dan dapat
mengenal bahkan memercayai Yesus Kristus.
Mari
kita tidak sekedar melayani Tuhan dihari-hari yang sudah ditetapkan, tetapi
kita diajarkan untuk melayani Dia sepanjang hidup kita, melayani Dia dalam Roh
dan Kebenaran, yaitu melayani Dia dengan hidup kita yang benar, yang telah
diubahkan, yang telah dimerdekakan dari doda menjadi anak-anak kepunyaan Allah.
Amin…!
Tuhan
Yesus Memberkati
Senin, 05 Mei 2014
Menguasai Anggota Tubuh
Ketidakpengertian
terhadap sebuah kebenaran akan membuat kita sulit dan bisa salah menerapkan
atau mengenakan kebenaran tersebut. Itulah sebabnya memahami kebenaran Firman
Tuhan secara tepat dan benar sangatlah penting bagi terwujudnya pengalaman
hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan tersebut.
Demikian juga ketika kita membaca Alkitab yang berisi perintah bagi kita
untuk dilakukan, kalau kita tidak memahami perintah atau Firman Tuhan tersebut,
Tentu hal ini tidak akan berhasil, karena untuk bisa memenuhi atau menuruti
Firman Tuhan tersebut, maka kita akan berusaha dengan kemampuan kita sendiri
untuk memenuhi perintah Tuhan atau Firman Tuhan tersebut. Tentu hal ini tidak
akan berhasil, karena untuk bisa memenuhi dan menuruti Firman tersebut,
dibutuhkan kehidupan Ilahi untuk menggenapinya. Disinilah letak pentingnya
untuk memahami Firman Tuhan itu secara tepat dan benar. Firman Tuhn yang
dipahami dan diterima degan tepat dan benar akan membawa kita masuk kepada
kasih karunia Tuhan itu sendiri. inilah yang menyanggupkan kita memenuhi atau
hidup sepadan dengan Firman Tuhan itu sendiri.
Dari penjelasan diatas, hendaknya
kita memahami bagaimana menguasai seluruh anggota tubuh kita. Alkitab berkata:
“serahkanlah anggota-anggota tubuhmu untuk dipakai sebagai senjata-senjata
kebenaran” (Roma 6:13b). Kalau Firman tersebut dipahami secara terpisah dari
anugerah sebelumnya yang dijelaskan dari ayat 1 dari pasal 6 tersebut akan
membuat kita mengalami kesulitan untuk
menguasai anggota-anggota tubuh kita, karena kita cenderung untuk menggunakan
kemampuan diri sendii, tanpa mengandalkan anugerah yang telah diberikan kepada
kita. Disinilah letak kesalahan dan
kegagalan setiap anak-anak Tuhan untuk menguasai seluruh anggota-anggota
tubuhnya.
Kesalahan berikutnya ialah adanya
kebingungan dalam memahami antara apa yang telah Tuhan selesaikan bagi kita
dengan bagian yang menjadi wewenang kita. Maksudnya, Tuhan Yesus telah
menyelesaikan seluruh karya untuk memerdekakan kita dari dosa disatu sisi,
tetapi disisi lain kita diperintahkan untuk mematikan perbuatan-perbuatan dosa.
Disatu sisi, Firman Tuhan mengatakan, bahwa tubuh dosa kita telah hilang
kuasanya, karena telah disalibkan bersama dengan Kristus; tetapi disisi yang
lain kita diperintahkan untuk mematikan dalam diri kita segala sesuatu yang
duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga
keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala; membuang marah, geram,
kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut (kolose 3:5,8).
Bagaimana memahami dan mengatasi jurang pemisah antar kedua hal tersebut. Hal
ini hanya terletak kepada kesalahpahaman antara apa yang menjadi wewenang Allah
dengan apa yang menjadi wewenang kita. Hal ini telah Allah selesaikan dengan
tuntas didalam Tuhan kita, Yesus Kristus. Sedangkna mengendalikan dan menguasai
seluruh anggota tubuh kita dan tindakan kita adalah diri kita sendiri.
maksudnya ialah kitalah yang harus mengambil keputusan dan memerintahkan
anggota-anggota tubuh kita untuk melakukan apa yang Allah kehendaki. Karena hal
tersebut ada diwilayah kewenangan kita, bukan Tuhan; bukan Tuhan yang mengambil
keputusan untuk kita, melainkan kitalah yang harus mengambil keputusan dan
tindakan agar dilakukan oleh anggota-anggota tubuh kita. Tentu, ini dilakukan
dengan kesadaran bahwa kita ada didalam anugerah Allah bekerja didalam kita.
Filipi 2:13 berkata : “Karena Allah yang mengerjakan didalam kamu baik
kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” dan lagi Roma 8:13 berkata, Sebab
jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu
mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup”. Jadi antara anugerah Tuhan dengan tindakan
kita harus selaras; anugerah mendahului tindakan, bukan sebaliknya.
Kamis, 24 April 2014
Menjaga Hati
Harus diakui, bahwa sumber dari segala persoalan hidup yang
dihadapi oleh manusia itu berasal dari hatinya sendiri. tentu, bukan hanya
persoalan itu saja yang bersumber dari hati itu sendiri, tetapi ‘pancaran’
kehidupan itu juga bermula dari hati kita. Itulah sebabnya Amsal 4:23 berkata :
”jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar
kehidupan”. Mengapa ‘hati’ disini lebih penting dari pada kita menjaga
segala harta kehidupan didunia ini? karena hati kita adalah pusat dari segala kegiatan yang kita lakukan yang
menyatakan kehidupan seprti apa yang kita miliki. Ini berarti kita tidak boleh
membiarkan apa saja boleh masuk kedalam hati kita; kita harus menjaganya dengan
segala kesiagaan dan kewaspadaan. Sehingga segala yang masuk kedalam hati kita
dapat dipastikan adalah segala sesuatu yang dapat membawa kehidupan kita yang
bernilai kekal dan mulia. Apa yang masuk ke dalam hati kita, itulah yang “menggerakkan”
kehidupan kita, yang kita jalani sehari-hari. Karena hal inilah, kita harus
mengisi hati kita itu dengan segala hal yang dikehendaki Tuhan; dan segala hal
yang diehendaki Tuhan itu ialah FIRMAN-NYA.
Alkitab mengatakan
kepada kita bahwa hati kita merupakan pusa dimana kita mengungkapkan “kepercayaan”
kita. Itu sebabnya kita “Percaya” dengan hati (Roma 10:9-10). Ini memberitahukan
kepada kita bahwa apa yang mengisi hati kita, itu juga yang menjadi dasar
atau isi dari kepercayaan kita. Itu sebabnya
mengapa seringkali kita menemukan ada banyak umat Tuhan yang mengalami
kesulitan untuk percaya kepada Tuhan ketika ia sedang mengalami persoalan dalam
hidupnya. Mereka mengisi hatinya dengan segala hal yang diinginkannya, kecuali
satu hal itu, yaitu Firman Tuhan. ini terlihat ada banyak yang ke pertemuan
ibadah atau ke gereja hanya asal memenuhi kegiatan keagamaan mereka, mereka
mendengar asal mendengar, mereka ke gereja bukan untuk mengisi hatinya dengan
Firman Tuhan. “mengisi hati” kita dengan Firman Tuhan disini tidak hanya
membicarakan tentang mendengarkan khotbah-khotbah yang disampaikan kepada kita
dengan sepenuh hati, bukan hanya itu. Ini berbicara tentang adakah kita
memiliki Firman Tuhan itu dalam hati kita.
Bukan mendengar hanya sekedar untuk tahu, bukan mendengar hanya sekedar
untuk mengerti, melainkan mendengar benar-benar untuk memilikinya. Mendengar untuk
dijadikan “isi hati” kita. Firman Tuhan
yang kita miliki itu sanggup untuk menjaga hati kita agar tetap berpaut erat
kepada Tuhan. Firman Tuhan itu juga sanggup untuk mendatangkan Iman yang hidup
dan benar. Bahkan Ia sanggup mengerjakan segala hal yang diinginkan Tuhan itu sendiri didalam
hidup kita. Kalau kita mendengar atau membaca
Firman Tuhan itu saja, belum sampai Firman itu mengendalikan kita. Ketahuilah kita
belum memiliki Firman Tuhan tersebut. Kondisi yang demikian ini pasti membuat
kita mengalami sulit dan bahkan mustahil untuk bisa percaya kepada Tuhan dengan
tidak tergoyahkan. Oleh sebab itu, hati-hati dengan apa yang kamu dengar;
jangan sembarangan mendengar! Sebab hanya satu yang harus kita dengarkan dengan
sepenuhnya, yaitu Firman Tuhan yang disampaikan kepada kita melalui Alkiab.
Amin
Keselamatan
Kata
Ibrani יְשׁוּעָה (Yesyuah) dan kata Yunani σωτηρία (Soteria),
berarti tindakan atau hasil dari pembebasan atau pemeliharaan dari bahaya atau
penyakit, mencakup keselamatan, kesehatan dan kemakmuran. Pergeseran arti
'keselamatan' dalam Alkitab bergerak dari ihwal fisik ke kelepasan moral dan
spiritual. Demikianlah bagian-bagian paling depan Perjanjian Lama (PL)
berkembang dari menekankan cara-cara hamba Allah yang secara perseorangan
terlepas dari tangan musuh-musuh mereka, ke pembebasan umat-Nya dari belenggu
dan bermukimnya di tanah yang makmur; bagian-bagian paling akhir PL memberikan
tekanan yg lebih besar pada keadaan-keadaan dan kualitas-kualitas keterberkatan
secara moral dan religius, dan memperluasnya sampai melampaui batas-batas kebangsaan.
Perjanjian Baru (PB) dengan jelas menunjukkan keterbudakan manusia kepada dosa,
bahaya dan kekuatan dosa, dan kelepasan dari dosa yg hanya dapat diperoleh
dalam Kristus. Alkitab memberikan pernyataan-pernyataan yg makin lama makin
jelas tentang bagaimana Allah menyediakan dasar keselamatan, menawarkannya, dan
bagaimana Dia sendiri pada diriNya adalah satu-satunya keselamatan manusia.
I. Dalam Perjanjian
Lama (PL)
Keselamatan
menurut PL mempunyai unsur-unsur baik yang tertuju kepada manusia maupun yang
tertuju kepada Allah. Manusia terancam bahaya penyakit, musibah fisik,
penganiayaan oleh lawan dan kematian. Dalam persekutuan umat pilihan Allah,
keterbelengguan (ketertawanan) merupakan pengalaman nyata, yang daripadanya
kelepasan mutlak diperlukan, dan gagasan-gagasan tentang keselamatan terutama
yang bersifat kesukaan dan duniawi. Bahaya yang lebih gawat adalah di mana
perseorangan dan masyarakat berdiri di hadirat Allah, yang kehendak-Nya sudah
mereka langgar dan yang murka-Nya telah menimpa mereka.
Alat-alat
keselamatan, langsung atau tidak langsung, disediakan melalui para Bapak
leluhur, hakim, pemberi hukum, imam, raja dan nabi. Hukum, baik bersifat ritual
maupun moral, akibat dosa manusia, tidak mampu memberikan keselamatan yang
penuh, tapi menunjukkan ciri dan tuntutan Allah dan kondisi kesejahteraan
manusia. Juga dalam batas-batas tertentu 'mengerem' kesalahan manusia; tapi
penyalahgunaannya sebagai aturan moral melahirkan legalisme dua muka.
Pertama,
keterikatan secara lahiriah kepada peraturan-peraturan telah kehilangan
kenyataan spiritual yang terdalam. Kedua, pencapaian manusia dibeberkan di
hadapan Allah dalam tuntutan yang bersifat membenarkan diri sendiri, untuk
memperoleh keselamatan.
Kekakuan
upacara terancam oleh bahaya yang sama, tapi sementara kemuncak penyelenggaraan
upacara - Hari Pendamaian - hanya menggenapi pengampunan atas dosa-dosa yang
tidak disengaja, maka rinciannya menunjuk ke depan kepada datangnya keselamatan
sejati. Penekanan nabi-nabi akan betapa perlunya perubahan batiniah,
menggaris-bawahi bobot kesalahan perbuatan manusia. Jugamembimbing kepada
ramalan tentang keselamatan mesianis yang apokaliptik, bila Allah, sesuai
janji-Nya, akan datang sendiri dalam keselamatan sebagai Allah yg adil dan
Juruselamat (Yesaya 44:17; Daniel 7:13 dab). Ajaran PL tentang keselamatan
mencapai puncaknya dalam gambar Hamba yg menderita
I. Dalam Perjanjian
BARU (PB)
a. Injil Sinoptik
Kata
keselamatan diucapkan hanya satu kali oleh Yesus (Lukas 19:9). Ayat itu dapat
mengacu kepada diriNya sendiri sebagai kandungan keselamatan yang memberikan
pengampunan kepada Zakheus, atau kepada sesuatu yg nyata oleh perubahan
tindakan yang dilakukan oleh pemungut cukai itu. Tapi Tuhan Yesus menggunakan
kata kerja 'selamat' dan istilah-istilah yg serupa, untuk menyatakan
pertama-tama apa yang akan dilakukan-Nya dalam kedatangan-Nya (Markus 3:4
secara implikatif, dan secara langsung Lukas 4: 18; 9:56; Matius 18:11; 20:28),
dan kedua, apa yang dituntut dari manusia (Markus 8:35; Lukas 7:50; 8:12;
13:24; Matius 10:22). Lukas 18:26 dan konteks nya, menunjukkan bahwa
keselamatan menghimbau hati yg menyesal, sifat seperti kanak-kanak,
ketidakberdayaan diri yang pasrah menerima, dan penyangkalan segala sesuatu
demi Kristus - kondisi-kondisi yang mustahil dapat dipenuhi manusia tanpa
bantuan.
Kesaksian
orang-orang lain terhadap karya penyelamatan Tuhan Yesus. baik langsung (Matius
8:17) maupun tidak langsung (Markus 15:31). Ada Juga kesaksian dari nama-Nya
sendiri (Matius 1:21, 23). Semua penggunaan kata 'selamat' yang berbeda-beda
ini. menvatakan bahwa keselamatan sudah hadir dalam pribadi dan pelayanan
Kristus, terutama dalam kematian-Nya.
b. Injil Keempat
Kebenaran
ganda itu digarisbawahi dalam Injil keempat di mana setiap pasal menyatakan
segi-segi yang berbeda dari keselamatan. Demikianlah dalam Yohanes 1:12 dab
orang dilahirkan sebagai anak-anak Allah karcna mempercayai Kristus; dalam
Yohanes 2:5 keadaan diobati dcngan mengerjakan 'apa yg dikatakan kepadamu';
dalam Yohanes 3:5 kelahiran kembali oleh Roh mutlak penting guna memasuki
Kerajaan. tapi Yohanes 3:14, 17 menjelaskan bahwa hidup baru itu tidak mungkin
lepas dari kepercayaan akan kematian Kristus. karena tanpa kematian Kristus
maka manusia berada di bawah penghukuman (Yohanes 3:18); dalam Yohanes 4:22 keselamatan
itu datang melalui bangsa Yahudi - melalui wahyu yg disalurkan dalam sejarah
lewat umat Allah - dan merupakan anugerah yang mendampakkan perubahan batiniah
dan memperlengkapi manusia bagi ibadah.
Dalam
Yohanes 5:14 seseorang yg sudah dipulihkan harus tidak berbuat dosa lagi, agar
sesuatu yang lebih buruk tidak terjadi dalam Yohanes 5:39 Alkitab bersaksi
tentang kehidupan (keselamatan) di dalam Anak, kepada Siapa hidup dan
pengadilan diserahkan; dalam Yohanes 5:24 orang percaya sudah melewati maut menuju
ke kehidupan; dalam Yohanes 6:35 Yesus menyatakan diri-Nya sendiri adalah roti
kehidupan, kepada-Nya saja orang harus datang (Yohanes 6:68) untuk perkataan
yang menghidupkan kepada kehidupan yg kekal, dalam Yohanes 7:39 air
melambangkan kehidupan Roh yang menyelamatkan, yang akan datang sesudah Yesus
dipermuliakan.
Dalam
Yohanes 8:12 penginjil menunjukkan kesejahteraan karena bimbingan terang, dan
dalam ayat 32, 36 kebebasan oleh kebenaran di dalam Anak; dalam Yohanes
9:25,37,39 keselamatan merupakan penglihatan spiritual; dalam Yohanes 10:10
jalan masuk bagi manusia ke kehidupan yg selamat dan berkelimpahan dan yang
dari Bapak adalah melalui Kristus; dalam Yohanes 11:25 dab hidup kebangkitan
menjadi milik orang-orang percaya; dalam Yohanes 11:50 (bandingkan Yohanes
18:14) tujuan penyelamatan dari kematian Kristus digambarkan; dalam Yohanes
12:32 Kristus yang ditinggikan dalam kematian menghimbau orang kepada-Nya;
dalam Yohanes 13:10 pembasuhan pertama yang dilakukan-Nya mengartikan
keselamatan ('bersih seluruhnya'); dalam Yohanes 14:6 Kristus adalah jalan yang
benar dan hidup menuju hadirat Bapak; dalam Yohanes 15:5 tinggal di dalam Dia.
Pokok Anggur merupakan rahasia dari sumber-sumber kehidupan; dalam Yohanes
16:7-15 demi nama-Nya Roh akan mengatasi kendala-kendala keselamatan dan -
mempersiapkan realisasinya; dalam Yohanes 17:2,3,12 Kristus menjagai mereka
yang mempunyai pengetahuan tentang Allah yang benar dan tentang diriNya; dalam
Yohanes 19:30 keselamatan digenapi; dalam Yohanes 20:21-23 kata-kata damai dan
pengampunan menyertai pemherian Roh; dalam Yohanes 21:15-18 kasih-Nya yang
menyembuhkan memancarkan kasih dalam pengikut-Nya dan memulihkan sang pengikut
untuk pelayanan.
c. Kisah Para Rasul
Kitab Kisah Para rasul
melacak pemberitaan (bandingkan Kisah 16:17) keselamatan dalam dampaknya.
pertama atas orang banyak yg dihimbau dengan kata-kata 'berilah dirimu
diselamatkan dari angkatan yang jahat ini' (Kisah 2:40) melalui pertobatan
(yang adalah merupakan anugerah dan bg dari keselamatan, Kisah 11:18),
pengampunan dosa, dan penerimaan Roh Kudus; kemudian atas orang sakit. yang
tidak tahu kebutuhannya yang sesungguhnya, yang disembuhkan dengan Nama Yesus,
satu-satunya Nama dengan mana kita harus diselamatkan; dan ketiga, atas isi
rumah penanya, 'Apakah yang harus saya lakukan supaya selamat'!' (Kisah 16:30
dab).
d. Surat-surat Paulus
Paulus
menyatakan bahwa Kitab Suci dapat memberi manusia 'hikmat dan menuntun ke
keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus' (2 Timotius 3:15 dab). dan
menyediakan sarana-sarana yang penting untuk menikmati keselamatan yang penuh.
Dengan memperluas dan menerapkan konsep PL tentang keadilan Tuhan yang menjadi
bayang-bayang bagi keadilan yang menyelamatkan dalam PB, Paulus menunjukkan
betapa tidak ada keselamatan oleh hukum. Sebab hukum hanya dapat menunjukkan
kehadiran dan memancing aktivitas dosa. dan membungkamkan manusia dalam
kesalahannya di hadapan Allah (Roma 3:19; Galatia 2:16).
Keselamatan
disediakan sebagai anugerah dari Allah yang adil, yang berbuat dalam rahmat kepada
pedosa yg tidak layak. Pedosa yang oleh anugerah iman, percaya kepada keadilan
Kristus yang sudah menebus dia dengan kematian-Nya dan membenarkan dia oleh
kebangkitan-Nya. Allah, demi Kristus, membenarkan pedosa yg tak layak itu
(yaitu memperhitungkan baginya keadilan Kristus yang sempurna), mengampuni
dosa-dosanya, mendamaikan dia dengan diri-Nya sendiri di dalam dan melalui
Kristus yang sudah 'membuat perdamaian melalui darah salib-Nya' (2 Korintus
5:18; Roma 5:11; Kolose 1:20), mengangkatnya menjadi keluarga-Nya (Galatia 4:5
dab; Efesus 1:13; 2 Korintus 1:22). memberinya meterai, kesungguhan, dan buah
sulung dari RohNya di dalam hatinya, dan dcngan demikian menjadikannya makhluk
baru. Oleh Roh yang sama sarana keselamatan berikutnya memampukan dia berjalan
dalam kehidupan yang baru, sambil makin mematikan perbuatan-perbuatan daging
(Roma 8:13) sampai akhirnya ia dijadikan sama dengan Kristus (Roma 8:29) dan
keselamatannya digenapi dalam kemuliaan (Filipi 3:21).
e. Surat Ibrani
Keselamatan
'akbar' Ibrani melampaui bayangan-keselamatan PL. Keselamatan PB dilukiskan
dengan bahasa korban; korban-korban yang sering diulang dalam upacara PL,
mengenai terutama dosa-dosa yang tidak disengaja dan hanya menyediakan
keselamatan yang dangkal, digantikan dengan korban satu-satunya yg
dipersembahkan oleh Kristus, Dia sendiri yg adalah Imam dan sekaligus korban
(Ibrani 9:26; 10:12). Pencurahan hidup-Nya dan darah-Nya dalam kematian-Nya
mengerjakan penebusan. sehingga sejak itu manusia dengan hati nurani yang bersih
dapat masuk ke hadirat Allah berdasarkan perjanjian baru, yg disahkan oleh
Allah melalui pengantaraan-Nya (Ibrani 9:15; 12:24). Surat Ibrani yang
menggarisbawahi penekanan macam itu kepada hal Kristus menyelesaikan soal dosa
dengan penderitaan-Nya dan kematian-Nya guna menyediakan keselamatan kekal,
memandang juga kepada kedatangan-Nya yg kedua kali, yang pada waktu itu tidak
untuk menanggung dosa, melainkan untuk menggenapi keselamatan umat-Nya dan
pasti menganugerahkan kemuliaan yang menyertai mereka (Ibrani 9:28)
f. Surat Yakobus
Yak
mengajarkan bahwa keselamatan bukanlah hanya' oleh iman' saja, tapi juga oleh
'perbuatan' (Yakobus 2:24). Tujuannya ialah untuk membuyarkan harapan siapa
saja yang menggantungkan keselamatannya hanya pada pengetahuan intelektual
tentang keberadaan Allah, tanpa adanya perubahan hati yang mendampakkan
perbuatan-perbuatan yang adil. Yakobus bukannya membuang iman yang benar, tapi
menekankan bahwa kehadiran orang beriman nampak melalui perbuatan yang pada
gilirannya menunjukkan daya penyelamatan dari agama yang benar, yg sedang
bekerja melalui firman Allah dalam hati. Ia tak kalah dalam minatnya untuk
membawa kembali orang-orang berdosa dari kesalahan jalannya dan menyelamatkan
nyawanya dari kematian (Yakobus 5:20).
g. 1 dan 2 Petrus
1
Petrus menekankan hal yang sama dengan Ibrani mengenai mahalnya keselamatan (1
Petrus 1:19) yang dicari-cari dan dinubuatkan para nabi. Tapi kini sudah
menjadi realitas bagi mereka, yang bagaikan domba yang sesat telah kembali
kepada Gembala jiwanya (1 Petrus 2:24 dab). Segi keakanannya dapat dikenal oleh
mereka 'yang dipelihara ... kepada keselamatan yang telah tersedia untuk
dinyatakan' (1 Petrus 1:5).
Dalam
2 Petrus keselamatan mencakup luput dari kerusakan yg ada dan terjadi di dunia
ini melalui nafsu, dengan cara turut mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2
Petrus 1:4). Dalam dunia yang penuh dosa ini, orang percaya merindukan langit
baru dan bumi baru di mana bersemi keadilan, namun mengakui bahwa penundaan
kedatangan akhir zaman (parausia) terkait pada kesabaran Tuhan dan penundaan
itu sendiri merupakan salah satu segi keselamatan (2 Petrus 3:13,15).
h. 1, 2, dan 3 Yohanes
Bagi
1 Yohanes bahasa korban Ibrani merupakan kesepakatan nalar. Kristus adalah
keselamatan kita dengan menjadi tebusan bagi dosa-dosa kita, sebagai akibat
dari kasih Allah. Adalah Allah sendiri oleh kasih-Nya di dalam darah kehidupan
Kristus yang dicurahkan, yg menghapus dosa-dosa kita dan menyucikan kita.
Seperti dalam Injil Keempat (Yohanes), keselamatan berarti dilahirkan dari
Allah, mengenal Allah, memperoleh hidup kekal di dalam Kristus, hidup dalam
terang dan kebenaran Allah, tinggal di dalam Allah dan mengetahui bahwa Ia
tinggal di dalam kita melalui kasih oleh Roh-Nya (1 Yohanes 3 :9: 4:6,13;
5:11). 3 Yohanes mempunyai doa yang penting bagi kesejahteraan umum dan
kesehatan jasmani (kesejahteraan alamiah) untuk menyertai kesejahteraanjiwa
(ayat 2).
i. Surat Yudas
Yudas
3, dalam mengacu kepada 'keselamatan kita bersama', memikirkan sesuatu yg
berkaitan dengan 'iman bersama' dalam Titus 1:4, dan menghubungkannya dengan
'iman' (bandingkan Efesus 4:5) untuk mana orang percaya harus berjuang.
Keselamatan ini meliputi kebenaran-kebenaran yg menyelamatkan, hak-hak
istimewa, tuntutan-tuntutan, dan pengalaman-pengalaman pembaca-pembacanya yang
bermacam-macam. Dalam ayat 22 dab ia dengan keras ingin menerapkan keselamatan
ini kepada berbagai kelompok orang yang dalam kebimbangan, bahaya dan
kemerosotan.
j. Wahyu
Wahyu
mengulangi tema (dari 1Yohanes) keselamatan sebagai pembebasan atau penyucian
dari dosa melalui darah Kristus, dan pengangkatan orang percaya menjadi imamat
yang berkerajaan (Wahyu 1:5 dab), Dalam cara mengenang pernazmur, penulis
dengan puji-pujian menggambarkan keselamatan bergantung dalam keseluruhannya
kepada Tuhan (Wahyu 7:10). Pasal-pasal penutup Wahyu melukiskan keselamatan
sebagai daun-daun pohon kehidupan yang diperuntukkan bagi kesembuhan
bangsa-bangsa. Hak mendekati pohon itu, sama seperti mendekati kota
keselamatan, diberikan hanya kepada mereka yang namanya tertulis dalam kitab
kehidupan.
III. Jalan Keselamatan
Titik
tolak pemikiran Alkitab ialah bahwa sejak kejatuhannya, manusia - baik sebagai
perseorangan maupun sebagai masyarakat - memerlukan pertolongan, yaitu
keselamatan. Ia berada dalam lingkaran setan pada posisi dan kondisi yg
berbahaya, bersalah dan tak berdaya. Kesalahannya telah tidak melayakkan dia
menerima bantuan yang dapat melepaskannya dari keadaan dan kedudukannya itu.
Tidak ada kebijakan dan kekuatan manusiawi yang mampu memecahkan masalah itu
untuk dapat keluar dari dalam lingkaran itu. Allah sendiri harus mengambil
prakarsajika manusia harus diselamatkan .
Ada
berbagai gambaran tentang kegawatan manusia kegagalan, kekurangan, kekosongan,
keterasingan, keterbelengguan, pemberontakan, penyakit, kerusakan, pencemaran,
kematian. Demikian juga banyaknya usaha yang sia-sia untuk memperbaiki keadaan
itu - pencerahan intelektual terhadap ketidaktahuan, pembaharuan moral,
peningkatan estetika, penanganan medis atau psikologis, perbaikan masyarakat dengan
menggunakan kehebatan teknologi canggih, strategi ekonomi dan politik, dan di
atas segalanya juga teknik-teknik keagamaan yang diciptakan manusia. Sejak dini
dalam kisahnya, manusia sudah harus melihat, sebagaimana ia masih harus
melihat, bahwa ia tidak dapat mengupayakan keselamatannya sendiri. Sebab
dosanya berakar, dan ia pada dirinya terpusat pada dirinya sendiri saja.
Usaha-usaha manusia untuk menyelamatkan dirinya sendiri merupakan penentangan
terburuk kepada Allah dan terkena hukuman-Nya.
Alkitab
menggambarkan Allah dalam kasih yg kudus berprakarsa memikirkan dan
melaksanakan 'karya penyelamatan'. Acuan-acuan Alkitab kepada apa yg sudah
terjadi terdahulu atau pada 'saat kejadian dunia'. telah melahirkan pertanyaan
seperti kapan, dan dalam urutan yg bagaimana Allah merancang penyelamatan itu
(Matius 13:35; 25:34; Yohanes 17:24; Efesus 1:4; Ibrani 4:3; 1 Petrus 1 :20;
Wahyu 13 :8; 17:8). Namun teolog spekulatiflah yang bertugas membahas masalah,
dalam urutan kronologis yang bagaimanakah empat istilah: penciptaan, kejatuhan,
pemilihan, penyelamatan itu dinyatakan .
Alat-alat
keselamatan menjadi lebih jelas Adalah Jelas bahwa Bapak, Anak dan Roh terlibat
(pengalimatannya yg tradisional ialah bahwa Bapak mendekritkan, Anak mengadakan
dan Roh menerapkan keselarnatanl. 'Poros' keselamatan itu adalah salib Kristus
(Roma 1:16; 1 Korintus 1:18). Dengan tidak melupakan hidup dan kebangkitan
Kristus, teolog-teolog biblika sepakat bahwa dalam kematian Kristus-lah Allah
melaksanakan tindakan penyelamatan yg sentral bagi manusia. Adalah Tuhan Allah
sendiri dalam kasih-Nya yang kudus, yang menyediakan keselamatan. Gambaran
keselamatan itu bermacam-macam. Tapi polanya menyatakan keagungan. rahasia.
Kekuasaan, dan belas kasihan Allah yang sedang berkarya, dosa yang merupakan
penghinaan terhadap kekudusan Allah ditiadakan dalam Kristus.
Hubungan
damai dengan Allah disahkan oleh Dia yang telah membuat pendamaian melalui
salib-Nya dan penebusan bagi manusia yang terasing dari Khalik-nya. Pembebasan
diumumkan di pengadilan. karcna Allah dalam Anak-Nya memikul hukuman yang
seyogianya dibebankan atas manusia. dengan menyamakan diriNya sendiri dengan
dosa manusia: kehormatan Allah dipuaskan oleh kesempurnaan Kristus yang.
diserahkan dalam ketaatan; Kristus mempersatukan kemanusiaan dalam diriNya
sendiri, dan menyerahkan itu sebagai korban-Nya kepada Bapak. Kristus adalah
Pemenang mutlak dalam kematian-Nya.
Tekanan
di sini terletak pada keselamatan yang telah disediakan Allah bagi manusia
dalam Kristus, dan sekalipun tidak ada pemisahan antara mereka, penting
ditunjukkan bagaimana Allah mengerjakan keselamatan dalam manusia Yesus.
Adalah
Roh Kudus yang mewuujudkan keselamatan itu menjadi riil (konkret) bagi manusia.
Pengalaman manusia tentang keselamatan melalui tiga kurun waktu. dan dapat
dilukiskan dalam pengertian masa lalu. masa kini, dan masa datang: posesif,
progresif dan prospektif. Sang insan sudah diselamatkan. sedana diselamatkan
dan akan diselamatkan (Efesus 2:8; 1 Korintus 1:18; Matius 10:22; Roma 5:9,10;
8:24).
a. Posesif
Manusia
dengan iman yang dikerjakan oleh Roh di dalam dia, dianugerahi status baru
dalam Kristus: ia telah dibenarkan dan dibebaskan demi Kristus. Apabila ia
dalam statusnya yg belum dibenarkan sama sekali tidak layak memperoleh
keselamatan. maka sesudah dibenarkan (bukan oleh kebenarannya sendiri) ia tidak
dapat menjadi tidak layak akan keselamatan atau membuat dirinya tidak
dibenarkan, dalam arti menggagalkan apa yg sudah dikerjakan Tuhan untuknya. Ia
sudah ditebus, didamaikan, diampuni, disucikan (Yohanes 13:10). telah melewati
maut menuju ke kehidupan, dan dikaruniai jaminan oleh Roh yang bersaksi bersama
rohnya sendiri bahwa ia adalah anak Allah (Roma 8:16), turut rnenjadi pewaris
bersama Kristus, memiliki hidup yang kekal dalam kualitasnya dan kekekalan
waktuwi, dan yang mematahkan belenggu ketakutan akan maut (Ibrani 2:15).
b. Progresif
Rahmat
Allah yg membawa keselamatan (Titus 2:11), yang merupakan kekuatan sebagai
dampak pemberitaan tentang salib kepada mereka yang diselamatkan' (1 Korintus 1:18)
mengajarkan:
(i) kebutuhan akan karya pengudusan oleh
Roh;
(ii) penerapan keselamatan yg telah diberikan
Tuhan kepada manusia (Filipo 2: 12): dan
(iii) penyangkalan terhadap nafsu-nafsu
duniawi, yang mendarnpakkan hidup yang saleh dan adil dan ilahi di dunia yang
sekarang. Seperti iman adalah penting dalam keselamatan yang dimengerti secara
posesif, maka demikian jugalah kasih dalam keselamatan yg dimengerti secara
progresif.
Oleh kasih yang
disemaikan oleh Roh maka hidup manusia terpelihara, mencapai kepribadian yang
benar dalam merefleksikan citra Allah. dan Roh sungguh-sungguh hadir dalam
pribadinya terhadap orang-orang lain yang membutuhkan keselamatan.
c. Prospektif
Keselamatan
seutuhnya akan diwujudkan kelak. Manusia diselamatkan oleh pengharapan. Orang
percaya ditunjuk untuk memperoleh keselamatan (1 Tesalonika 5:9; 2 Tesalonika
2:13; 2 Timotius 2:10; Ibrani 1:14). Keselamatan siap untuk dinyatakan pada
akhir zaman (1 Petrus 1:5). Keselamatan 'lebih dekat bagi kita daripada waktu
kita percaya' (Roma 13:11). Bagi mereka yang mencari Kristus, la akan datang
untuk kedua kalinya, bukan untuk urusan dosa. melainkan 'untuk keselamatan'
(Ibrani 9:28). Pada waktu kejahatan dikalahkan tuntas dan mutlak untuk
selama-lamanya, suara sorgawi akan menyerukan 'Sekarang keselamatnn telah
datang' (Wahyu 12:10).
IV. Hak Istimewa dan
Tanggung-jawab dari Keselamatan
Penerima
keselamatan di mana pun tidak boleh membanggakan diri kepada Allah. Bahkan
orang-orang pilihan diperingatkan supaya makin meneguhkan panggilan dan
pemilihan mereka (2 Petrus 1:10) dan untuk mengerjakan keselamatan mereka
dengan takut dan gentar (Filipi 2:13). Persekutuan orang percaya yg sudah
diselamatkan - gereja - merupakan penjaga keselamatan. dan kalimat extra
ecclesiam nulla salus (di luar gereja tidak ada keselamatan) baru mengandung
artinya yg sebenarnya. bila tugas hikmat memelihara kerugma dan didakhe tentang
keselamatan diwujudkan. Gereja harus menjadi 'persekutuan orang-orang yang
prihatin', umat yang diselamatkan dan menyelamatkan.
Jika
keselamatan benar-benar bekerja dalam diri orang-orang percaya, maka
persekutuan (koin6nia) mereka di dalam Roh akan bertambah Dan kekuatan yang
menyelamatkan dari Tuhan, yang secara 'vertikal' bekerja ke bawah, membuat
mereka sadar akan dampak 'horisontal' atas masyarakat dan yg harus terjadi
karena memiliki keselamatan itu. Mereka yg memiliki keselamatan harus menjadi
terang dunia, garam dunia. kota di atas gunung. Sejarah gereja menunjukkan
bagaimana gereja telah belajar dan masih harus belajar untuk bersaksi secara
nabiah tentang keselamatan dalam setiap zaman.
V. Penggenapan
Keselamatan
Alkitab
tidak bicara tentang keselamatan yang sedikit demi sedikit bagi seluruh umat
manusia, apakah itu dalam arti mempersiapkan mereka semua bagi kemuliaan. atau pengubahan
masyarakat oleh perkembangan yang berkesinambungan melalui penerapan
prinsip-prinsip' selamat'. Tapi Alkitab menjanjikan pembinasaan tuntas
kejahatan secara apokaliptis ataupun eskatologis, pembebasan makhluk ciptaan
yang sekarang ini mengerang dalam belenggu kerusakan menuju ke kebebasan
anak-anak Allah yang berkilauan (Roma 8:21 dab) pada saat "pengangkatan'.
'penebusan tubuh', 'penciptaan kembali' (Matius 19:28), dan penciptaan 'langit
baru dan bumi baru. di mana tinggal keadilan'. di mana Tuhan akan dilihat
secara tatap muka.
KEPUSTAKAAN:
1. W Foerster, G
Fohrer, Theologisches Worterbucch zum Neuen
Testament 7, hlm 965-1003;
2.
M Green, The Meaning of Salvation, 1965;
3.
G.C Berkouwer, Faith and Justification, 1954; Faith &
Sanctification, 1952;
4.
E. Brunner, The Mediator, 1947;
5.
R.W Dale, The Atonement , 1899;
6.
J Denney, The Death of Christ, edisi 1951; P.T Forsyth, The
Cruciality of the Cross, 1948;
7.
L Morris, The Apostolic Preaching of the Cross, 1955;
8.
J Murray, Redemption Accomplished and Applied, 1955;
9.
L Newbigin, Sin and Salvation, 1956;
10.
G.B Stevens, The Christian Doctrine of Salvation, 1905.
11.
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Vol 2, Yayasan Komunikasi
Bina Kasih, 1995, hlm 375-379.
Langganan:
Postingan (Atom)
