Saya Teringat akan segala kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan dimasa lalu dan saya merenungkan betapa saya begitu menyakiti hati Tuhan. kesalahan-kesalahan yang besar yang saya buat membuat saya menyadari bahwa ketika saya melakukan semuanya itu ternyata tidak saja membuat orang lain tersakiti atau menderita. bahkan terlebihnya ialah saya telah membuat Tuhan tersakiti dan membuat saya berdosa terhadap Tuhan.
Ketika saya terus membaca dan merenungkan Firman Tuhan, saya menemukan bahwa dalam segala segi kehidupan kita, tidak akan berkenan kepada Allah jika kita tidak memberikan hidup kita dikendalikan oleh Firman Allah. sebab sangat jelas bahwa ketika hidup kita berada dalam kendali Allah maka tidak ada kesempatan bagi kita untuk kita melakukan dosa (keinginan daging). mengapa kita harus hidup dalam kendalinya Allah? Sebab Allah telah menebus hidup kita bahkan kita telah mati bersama-sama dalam kematianNya (Roma 6:5-6) agar melalui Yesus kita memperoleh pengampunan dan kita juga dibenarkan oleh Allah. kita diperdamaikan dengan Allah.
akan menjadi pertanyaan bagi kita ialah : mengapa kita yang sering terlibat dalam pelayanan, pengkhotbah, WL, Singers, pemusik dan lainnya sering terjerumus dalam dosa? bukankah kita telah mati bagi dosa Melalui Yesus Kristus Rom 6:10?. kita harus menyadari bahwa ketika hidup kita ditebus oleh Yesus Kristus, kita tidak lagi berada dibawah hukum dosa, sebab kita telah dimerdekakan dari dosa Oleh Yesus di kayu salib. artinya kita bukan lagi menjadi budak dosa tetapi kita telah menjadi hamba kebenaran.
orang sering dan berulang-ulang kali jatuh kedalam dosa karena dia memiliki pemahaman yang salah tentang apa yang Allah kerjakan atau yang sudah Allah kerjakan dalam hidupnya melalui Yesus. orang-orang akan menjawab "karna saya kan manusia biasa", karena saya kan masih hidup dalam dunia, dan lain sebagainya alasan yang diberikan". perkataan-perkataan seperti ini yang membuat kita akan terus menerus jaduh dalam dosa, jika kita memiliki pemahaman yang salah seperti ini, sama saja kita membuka kesempatan bagi dosa untuk kembali menjadi tuan dalam kehidupan kita. sehingga ketika dosa itu menjadi tuan dalam hidup kita maka ia akan mengendalikan hidup kita dan akan sangat sulit bagi kita untuk hidup dalam kendalinya Tuhan.
Ingat apa Yang Paulus katakan kepada Jemaat di Roma agar mereka dapat mengendalikan diri mereka supaya mereka tidak lagi hidup dalam dosa dan bahkan tidak membiarkan dosa itu berkuasa atas hidup mereka. sebab dengan jelas bahwa "upah dosa ialah maut".
orang mungkin bertanya-tanya bagaimana bisa kita dapat hidup benar sedangkan kita cenderung berbuat dosa? seseorang akan menjadi benar jika ia terlebih dahulu membiarkan diri dikendalikan oleh Firman (Merenungkan Firman itu siang dan Malam) Maz 1:1-2.
Mari, jadikanlah diri kita menjadi hamba-hamba kebenaran, dan membuarkan Firman Allah mengendalikan kehidupan kita, supaya kita memperoleh suatu kebahagiaan/sukacita yang besar dalam kehidupan kita. Sukacita yang besar itu akan kita dapat ketika kita dalam keberadaan kita sebagai orang benar terus berjuang dan terus bertahan baik dalam keadaan apapun, dalam situasi seburuk apapun (cercaan, siksaan, di hina, dll) kita tetap teguh dalam kebanaran yang diberikan Allah bagi kita. setelah semua perjuangan kita Allah melihat dan hasilnya kita tetap menjadi orang-orang yang teguh dalm memegang janjinya, sudah tentu bahwa Kesukaan yang besar itu akan kita terima dalam diri kita sebagai orang-orang percaya kepada Yesus Kristus.
"Kemerdekaan Sejati bukanlah HAK untuk melakukan apa yang anda inginkan, Sebaliknya, itu adalah kekuatan untuk melakukan apa yang seharusnya anda lakukan"
Selasa, 18 Maret 2014
Angka dalam Bahasa Sabu-NTT (Nusa Tenggara Timur)
1 = Ahi
2 = Due
3 = tallu
4 = Appa
5 = Lammi
6 = Anna
7 = Pidu
8 = Aru
9 = heo
10 = Henguru
11 = Henguru Ahi
.....dst
20 = Due Nguru
21 = Due nguru Ahi----dst
30 = Tallu nguru
40 = Appa Nguru
50 = lammi nguru
60 = Anna Nguru
70 = Pidu Nguru
80 = aru Nguru
90 = Heo Nguru
100 = he ngahu
200 = due Ngahu
1000 = he Tabba
100.000 = he Ngahu tabba
1000.000 = He Juta
Kamis, 31 Oktober 2013
"Saat Kebencian Mengaburkan Rasa Cinta Dihati"
Bisakah
seorang membenci Pasangannya namun sekaligus mencintainya? Namun kenyataan
banyak pernikahan porak-poranda bahkan hancur karena mereka yang dulu saling
mencintai kemudian menyimpan kebencian dan kemarahan.
Namun
Rasul Paulus pernah menasihatkan seperti ini: “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya
sendiri: siapa yang mengasihi istrinya, mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak
pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya sama
seperti Kristus terhadap Jemaat, karena kita adalah anggota tubuhNya. Efesus 5:
28-30.
Bukankah
tidak pernah kita dengar orang memotong
tangan atau kakinya sendiri karena dia membenci bagian tubuhnya itu? Lagi pula tidak 100% dalam diri pasangan kita
itu buruk, masih ada banyak hal yang baik dalam dirinya. Namun karena kita
hanya fokus kepada keburukannya, akhirnya semua kebaikan yang ada dalam dirinya
kita abaikan.
Mengapa
seseorang yang dulu dicintai bisa berubah menjadi pribadi yang dibenci?
Permasalahannya ialah ketika sesuatu yang tidak menyenangkan bagi salah satu
pasangan terjadi, hal tersbut tidak dikomunikasikan dengan baik. Akhirnya dari
rasa kesal dipendam kemudian ditambah rasa kesal lainnya membuat perasaan itu
menjadi marah, kemudian berkembang menjadi benci, dan puncaknya adalah rasa
dendam. Lalu bagaimana mengatasi sesuatu yang terus berkembang seperti bola
salju yang semakin besar tersebut.
1.
1. Jika perasaan yang mengganjak,
komunikasikan dengan baik terhadap pasangan.
Jadi,
jangan ungkapkan dengan mengomel, ataupun intonasi suara yang tinggi.
Sebaliknya tenangkan emosi anda,ajak pasangan anda berdiskusi dengan kepala
dingin kemudian ungkapkan perasaan anda dengan jujur.
2.
2. Hargai Perasaan dan Respon pasangan
Anda.
Ketika
anda mengungkapkan rasa kesal anda dengan cara konstruktif, anda juga harus
siap dengan responnya dan mau mendengarkan pendapatnya.
3.
3. Lapangkan Dada Untuk memberikan
Pengampunan dan Juga Maaf kepada pasangan Anda.
Ijinkan
kasih Tuhan mengalir dalam hidup anda dan memampukan anda untuk mengasihi dan
mengampuni pasangan. Demikian juga rendahkan hati untuk mau mengakui kesalahan
dan minta maaf. Jangan pernah menyimpan kesalahan pasangan anda terlalu lama,
ingatlah nasihat untuk memadamkan amarah sebelum matahari terbenam. (Efesus
4:26) percayalah ini akan sangat melegakkan hati.
4.
Berdoalah
bagi pasangan anda.
Ada
kondisi-kondisi yang kadang diluar jangkauan kemampuan kita, untuk itu bawalah
masalah-masalah tersebut dihadapan Tuhan. Berdoalah bagi pasangan anda. Doa
adalah alat Tuhan pertama-tama untuk mengubah diri kita, baru kemudian menjamah
kehidupan orang yang kita doakan.
Jika pernikahan
anda mengalami goncangan, jangan cepat-cepat mengatakan benci kepada pasangan
anda, apalagi cerai. Ingatlah prinsip ini, bahwa suami istri adalah satu tubuh,
dan menceraikan pasangan anda sama saja mengamputasi bagian tubuh anda sendiri.
Tidak ada masalah yang tidak ada jalan
keluarnya, datanglah kepada Tuha dan ijinkan Dia bekerja untuk memullihkan anda
dan pasangan anda.
Selasa, 29 Oktober 2013
Tujuan Pernikahan Kritsen
Oleh: Dr.
Yakub B. Susabda
Apa tujuan dari pernikahan dan
keluarga Kristen? Untuk maksud apa orang Kristen menikah dan berkeluarga?
Pertanyaan yang sering kita dengar ini sudah coba dijawab, baik melalui
konseling pranikah, ceramah-ceramah, maupun seminar-seminar. Bahkan hampir
setiap buku tentang pernikahan dan keluarga Kristen selalu dimulai dengan
membahas pertanyaan ini. Meskipun demikian selalu saja pertanyaan ini
ditanyakan. Rupanya keragu-raguan tak dapat disingkirkan dari dalam hati banyak
orang karena mungkin realitanya mereka sendiri menjalani kehidupan pernikahan
dan keluarga yang sekali-kali tidak berbeda dari orang-orang non-Kristen. Yaitu
kehidupan pernikahan dan keluarga "yang alami/natural" di mana orang
bertemu, saling mencinta, membuat tekad bersama, meresmikan ikatan mereka,
hidup bersama, bekerja mengumpulkan uang dan harta benda (untuk dinikmati
bersama sampai hari tua), melahirkan anak-anak, mendidik, membesarkan, dan
mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang mandiri dan bahagia. Yah suatu
kehidupan dengan tujuan kebahagiaan.
Inilah tujuan dari pernikahan dan
keluarga "yang alami" yang memang secara praktis sudah coba dijalani
oleh hampir setiap orang, termasuk umat Kristiani. Tidak heran jikalau
pergumulan mereka dalam pernikahan dan keluarga seringkali hanyalah untuk
mengatasi dan menyelesaikan hambatan-hambatan dalam proses pernikahan dan
keluarga mereka yang *KOSONG* untuk membentuk pernikahan dan membangun keluarga
yang bahagia adalah suatu kesia-siaan jikalau itu semata- mata manifestasi
proses alami, tanpa tujuan seperti yang telah ditetapkan oleh Allah.
Pernikahan dan keluarga Kristen
mempunyai tujuan yang jelas karena memang untuk maksud itulah Allah menciptakan
lembaga pernikahan. Bahkan Allah menetapkan bahwa lembaga pernikahan dan
keluarga menjadi pusat kehidupan manusia seutuhnya, karena:
- Melalui pernikahan dan keluarga Kristen manusia dipersiapkan untuk betul-betul menjadi manusia yang seutuhnya. Sangat mengherankan, bahwa bukan gereja dan bukan pula sekolah yang ditetapkan Allah untuk membentuk manusia menjadi manusia seutuhnya, tetapi keluarga. Melalui keluarga:
- Manusia belajar mengembangkan pattern/pola kerja dari jiwa yang cocok untuk memahami kasih Allah yang unconditional (kasih yang tak bersyarat).
Alkitab
menyaksikan bahwa Allah yang sejati adalah Allah yang kasih-Nya unconditional.
Artinyam Ia adalah Allah yang mengasihi manusia bukan oleh karena kondisi
manusia yang sudah pantas untuk dikasihi. Alkitab bahkan menyaksikan bahwa
"....waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang
berdosa" (Roma 5:6). Artinya sementara manusia masih dan sedang berkanjang
dalam dosa dan melawan Allah, Allah mengutus Putra-Nya yang Tunggal untuk mati
bagi mereka dan menebus dosa mereka. Kasih Allah adalah kasih yang
unconditional.
Coba
bayangkan, apa yang terjadi dan bagaimana manusia dapat "mengenal dan
menghayati" kasih Allah tersebut, jikalau mereka lahir dibesarkan dalam
keluarga di mana jiwa mereka cuma terlatih untuk mengerti kasih yang
conditional, kasih yang bersyarat. Banyak anak, termasuk anak-anak dalam
keluarga Kristen yang hanya merasakan kasih orangtua pada saat mereka *KOSONG*
orang-tua berubah dan kasihnya tak dapat dirasakan lagi. Pada saat-saat seperti
itu, disiplin menjadi punishment, dan nafsu kemarahan hanya mengkomunikasikan
hukuman, kebencian, dan penolakan saja. Meskipun mungkin setelah itu disesali,
tetap pattern/pola jiwa yang hanya mampu berkomunikasi dengan kasih yang
conditional-lah yang telah terbentuk. Pattern/pola jiwa ini akan terbawa
sepanjang umur hidup mereka. Sehingga pemahaman cognitif rasionil bahwa kasih
Allah adalah kasih yang unconditional, tidak pernah dapat benar-benar diterima
dan dihayati oleh jiwa mereka. Mungkin mereka sudah dilahirkan baru dan
diselamatkan, tetapi sulit bagi mereka untuk tumbuh secara rohani karena jiwa
mereka terjerat pada pattern/pola yang hanya bisa berkomunikasi dengan kasih
yang conditional saja.
- Manusia belajar mengembangkan pattern/pola kerja jiwa yang cocok untuk memahami kehendak Allah yang predictable (yang dapat diduga).
Alkitab
juga menyaksikan bahwa Allah yang hidup adalah Allah yang berkehendak dan
kehendak-Nya predictable. Ia bukan Allah yang firman- Nya tersembunyi, atau
terlalu sulit untuk difahami. Ia adalah Allah yang firman-Nya dianugerahkan
begitu dekat, bahkan menyatu dengan hati, mulut dan bibir anak-anak-Nya
(Ulangan 30:11- 14, 4:7-8). Orang percaya disebut sebagai sahabat-sahabat-Nya
(bukan hamba-hamba) karena "segala sesuatu yang diketahui Allah, yang
perlu untuk keselamatan dan kehidupan dalam kebenaran" sudah diberikan
kepada mereka (Yohanes 15:14-15). Allah adalah Allah yang firman-Nya
predictable.
Celakanya
manusia selalu terjebak dalam keinginantahuan atas hal-hal yang sekunder, yang
Allahpun sebenarnya tidak selalu menetapkan sama seperti Ia telah menetapkan
kehendak-Nya dalam keselamatan dan kehidupan dalam kebenaran-Nya. Dalam hal-hal
sekunder inilah manusia terjebak pada kehendak Allah yang seolah-olah
unpredictable (yang tak dapat diduga). Padahal yang terjadi seringkali adalah
manusia menghadapi dengan realita dari buah interaksi antara dirinya yang
berdosa dengan hukum alam (natural laws) yang diciptakan Allah. Soal sakit dan
kesembuhan, hal menanamkan modal, keuntungan atau kerugian dalam usaha, tujuan
dan cita-cita pribadi, pergaulan dan hal memilih jodoh, studi, karir, adalah
hal-hal yang sekunder, yang bobot kepentingannya tidak sama dengan kepentingan
dari keselamatan dan kehidupan dalam kebenaran. Dalam hal-hal inilah kehendak
Allah seolah-olah dirasakan unpredictable, karena pada akhirnya setiap manusia
harus bertanggung-jawab sesuai dengan pertanggung-jawaban, kebebasan dan level
kematangan pribadinya.
Kembali ke
persoalan semula, kita percaya bahwa dalam keluarga Kristen manusia ditetapkan
untuk mengembangkan pattern/pola kerja jiwa yang cocok untuk memahami kehendak
Allah yang predictable. Kehendak Allah dalam konteks keselamatan dan kehidupann
dalam kebenaran-Nya adalah kehendak Allah yang predictable. Dan hal yang
menghayati realita *KOSONG* Oleh sebab itu, masalah ini menjadi masalah yang
krusial pada saat kita menemukan betapa banyaknya orang Kristen yang dilahirkan
dan dibesarkan dalam keluarga di mana pattern/pola jiwa yang cocok untuk ini
tidak pernah dikembangkan. Banyak anak-anak keluarga Kristen yang pengalaman
dengan orangtuanya justru mengembangkan pola jiwa yang cuma cocok untuk
berhubungan dengan kehendak yang unpredictable. Misalnya, pada saat senang
orang-tua begitu permisif mengijinkan anak untuk nonton TV sampai larut malam.
Tetapi hari berikutnya, pada saat hatinya kurang senang, orang-tua melarang dan
dengan sikap yang sangat tidak bersahabat memarahi anak-anak ketika mereka
duduk nonton TV di sore hari. Sikap unpredictable ini bukan hanya menghancurkan
pembentukan konsep tentang nilai (mana yang baik dan mana yang tidak baik),
tetapi yang lebih serius, ini akan menutup kemungkinan bagi jiwa mereka
menghayati kebenaran Alkitab bahwa kehendak Allah betul-betul sudah disediakan
dan predictable.
- Manusia belajar untuk mengembangkan jiwa yang dapat mempercayai sesamanya.
Jiwa yang
dapat mempercayai (trusting) adalah jiwa manusia sebagai makhluk sosial. Tanpa
jiwa yang dapat mempercayai, manusia sulit bergaul dan bekerja sama dengan
sesamanya dan tidak mampu membangun kehidupan bermasyarakat. Manusia menjadi
anti-sosial dan hidup dalam dunianya sendiri. Bahkan manusia hidup dengan
hukum- hukum yang diciptakan dan dianutnya sendiri. Ia menjadi manusia egoistik
dan tidak berperasaan. Dengan kata lain, manusia kehilangan keutuhannya sebagai
manusia, jikalau ia tidak mempunyai jiwa yang dapat mempercayai sesamanya.
Jiwa yang
"dapat mempercayai sesamanya" ini biasanya terbentuk dan berkembang
pada masa kecil, sejak lahir sampai kira-kira berusia 2 th. Pembentukan dan
perkembangannya hanya terjadi dalam konteks keluarga yang hangat yang mengenal
dan mempraktekkan cinta kasih secara konsisten. Tanpa cinta kasih dari
orang-tua (terutama ibu) perkembangan jiwa anak akan terhambat dan anak tidak
lagi mempunyai kemampuan untuk dapat mempercayai sesamanya. Betapa besarnya
peran keluarga dalam pembentukan manusia yang seutuhnya.
- Manusia belajar mengembangkan jiwa yang dapat menghargai kemampuan dan karyanya sendiri.
Dengan
bakat otonomi, inisiatif dan industri, manusia barulah menjadi manusia
seutuhnya, yang berkarya, dan berinovasi untuk menjadi berkat dalam kehidupan ini.
Tanpa jiwa yang menghargai kemampuan dan karyanya sendiri, manusia menjadi
manusia yang tidak berguna, yang menjadi beban bagi sesamanya.
Perkembangan
jiwa dengan kualitas ini merupakan hal yang sangat penting, karena tanpa itu,
manusia tidak pernah siap untuk menjadi manusia yang seutuhnya dan sekali lagi
hal *KOSONG* industri dibentuk, yaitu melalui sikap orangtua yang mendorong
pertumbuhan jiwa yang sehat tersebut sejak anak berusia 3 tahun.
Orang-tua
yang membelenggu anaknya dengan 1001 macam peraturan dalam rumah, mematikan
curiosity (keinginan tahu) si anak, dan takut dirugikan dengan kreativitas di
luar kemauannya, akan menghasilkan anak-anak dengan jiwa ragu-ragu,
terus-menerus merasa bersalah, dan rendah diri. Anak-anak ini di kemudian hari
akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang tanpa inisiatif, dan tak punya
"self confidence dan self-esteem" (kepercayaan dan penghargaan pada
dirinya sendiri)." Mereka akan menjadi manusia-manusia yang tidak berguna.
Dengan ini sekali lagi kita disadarkan betapa besarnya kepentingan dan peran
dari keluarga.
- Melalui pernikahan dan pembentukan keluarga, orang percaya dipanggil untuk masuk ke dalam proses pendidikan yang paling efektif.
Alkitab
menyaksikan bahwa manusia diciptakan Allah menurut rupa dan gambar-Nya (Kejadian
1:26). Dan salah satu karekteristik dari natur manusia yang istimewa ini adalah
pertumbuhannya yang tidak mengenal kata cukup. Manusia diciptakan untuk
terus-menerus tumbuh dalam bakat, talenta dan kebenaran. Sehingga manusia dapat
dipersiapkan untuk menjadi partner (rekan kerja) Allah dalam mengerjakan dan
mengelola seluruh ciptaanNya (Kejadian 1:28, Efesus 2:10).
Sayang
sekali proses pertumbuhan ini mandeg, bahkan menjadi kacau- balau setelah
manusia jatuh dalam dosa. Sejak itu menusia tidak lagi menyadari akan maksud
Allah dengan pernikahan dan pembentukan keluarga supaya melalui itulah manusia
masuk dalam proses pertumbuhan yang tidak henti-hentinya. Di mata Allah,
pernikahan dan pembentukan keluarga adalah sarana pendidikan yang paling efektif.
Tidak heran jikalau setalah menciptakan Adam, Allah berfirman, tidak baik kalau
manusia itu seorang diri. "Aku akan menjadikan seorang penolong yang
sepadan baginya" (Kejadian2:18). Hubungan antara Adam dengan
"penolongnya yang sepadan" adalah hubungan suami-istri yang sah.
Yaitu hubungan seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah dipersatukan
oleh Allah, yang mengikatkan mereka dalam ikatan yang istimewa yang akan
memaksa mereka untuk terus-menerus tumbuh. Dalam hubungan dengan istrinya, Adam
terpaksa harus belajar menahan diri, bersabar, peka terhadap perasaan dan jalan
pikiran orang lain, dan bahkan menghargai pendapat yang mungkin sangat berbeda
dengan pikirannya sendiri. Adam harus bergumul dan dapat mentaklukkan selera
dan perasaannya sendiri yang berubah-ubah. Ia harus terus- menerus belajar
mengasihi isterinya dalam keadaan apapun. Termasuk dalam keadaan dimana
isterinya mungkin menjadi seorang yang sangat menjengkelkan hatinya."
*KOSONG* pekerjaan yang Allah percayakan padanya dengan hasil yang sangat baik
pula (misalnya, dalam menggarap bumi ini). Meskipun demikian, di mata Allah
Adam seorang dirinya sendiri "tidak baik." Allah tidak terlalu
mempedulikan "hasil/achievement," atau apa yang Adam bisa kerjakan.
Allah lebih mempedulikan apa yang terjadi dalam "hati" Adam. Sebagai
peta dan gambar Allah, Adam harus menjadi "makluk yang terus-menerus
tumbuh dalam kebenaran." Itulah maksud dari inisiatif Allah dalam
pernikahan dan pembentukan keluarga. Betapa pentingnya pernikahan dan
pembentukan keluarga di mata Allah. Karena melalui itulah manusia dapat
mengalami pertumbuhan dalam kebenaran.
Jumat, 19 Juli 2013
Sedikit Belajar Bahasa Daerah Sabu NTT
Era Nga'a, Nga'a. Era Jigga Perai = Ada makan, makan. Ada Kerja, lari.
Mai ma Nginu ai ko = Mari minum Air dulu
Dai Meringi lodo de = Hari ini dingin sekali
Menganga = lapar
Kae nga'a = tangan
Kae Jalla = kaki
Kattu = kepala
Ru Kattu = rambut
Bole meda'u = jangan takut
Mai we di ma Jigga hela'u-la'u = marilah kita kerja sama-sama
Nginu Kowi ko = minum kopi dulu
Dai ta bale ke ya = saya ingin pulang
Dai haja ya nga au = aku sangat sayang kamu
bole bani nga ya = jangan marah dengan saya
Dai Banni iye aulodo de = cantik sekali kamu hari ini/ kamu cantik sekali hari ini
Dai Padda ade ya = aku sangat sakit hati (kecewa).
Jammiae = pagi
Hedai Manu = daging ayam
Hedai wawi = daging babi
hedai Ngaka = daging anjing
Hedai nadu'u = daging ikan
hedai Hapi = daging sapi
Deo : Tuhan/Allah
Muri Di = Tuhan Yesus
Deo Ama = Allah Bapa
Deo Ana= Allah Anak
Mai Ma de = mari sini, mari kemari, ayo kesini
do tarra-tarra = sungguh-sungguh
Bole pe Kale lai = jangan cari masalah
Bole pe hala = jangan berkelahi
Ado do iye kiri pe hala = tidak baik kalau berkelahi
Mai ma Nginu ai ko = Mari minum Air dulu
Dai Meringi lodo de = Hari ini dingin sekali
Menganga = lapar
Kae nga'a = tangan
Kae Jalla = kaki
Kattu = kepala
Ru Kattu = rambut
Bole meda'u = jangan takut
Mai we di ma Jigga hela'u-la'u = marilah kita kerja sama-sama
Nginu Kowi ko = minum kopi dulu
Dai ta bale ke ya = saya ingin pulang
Dai haja ya nga au = aku sangat sayang kamu
bole bani nga ya = jangan marah dengan saya
Dai Banni iye aulodo de = cantik sekali kamu hari ini/ kamu cantik sekali hari ini
Dai Padda ade ya = aku sangat sakit hati (kecewa).
Jammiae = pagi
Hedai Manu = daging ayam
Hedai wawi = daging babi
hedai Ngaka = daging anjing
Hedai nadu'u = daging ikan
hedai Hapi = daging sapi
Deo : Tuhan/Allah
Muri Di = Tuhan Yesus
Deo Ama = Allah Bapa
Deo Ana= Allah Anak
Mai Ma de = mari sini, mari kemari, ayo kesini
do tarra-tarra = sungguh-sungguh
Bole pe Kale lai = jangan cari masalah
Bole pe hala = jangan berkelahi
Ado do iye kiri pe hala = tidak baik kalau berkelahi
Sedikit mengetahui Bahasa Sabu NTT
Ta lami? = mau kemana?
Ta la Pehia ko = mau jalan-jalan dulu
Pehia lami?= jalan-jalan kemana?
la kale bara la mall ko = mau cari pakaian di mall dulu
Nga'a = makan
Mai ma nga'a = mari makan
Nga'a nga ninga? = makan dengna apa?
Nga'a nga hedai = makan dengan daging
Menganga = lapar
ya = saya
au = kamu/lu
nadu? =siapa?
meda'u = takut
bole meda'u = jangan takut
bajji = tidur
mai we ma bajji = mari tidur/ ayo mari tidur
Ta nga? = kenapa?
Di = kita
Hedai = daging
Ngallu = angin
Madda = Malam
Ta la Pehia ko = mau jalan-jalan dulu
Pehia lami?= jalan-jalan kemana?
la kale bara la mall ko = mau cari pakaian di mall dulu
Nga'a = makan
Mai ma nga'a = mari makan
Nga'a nga ninga? = makan dengna apa?
Nga'a nga hedai = makan dengan daging
Menganga = lapar
ya = saya
au = kamu/lu
nadu? =siapa?
meda'u = takut
bole meda'u = jangan takut
bajji = tidur
mai we ma bajji = mari tidur/ ayo mari tidur
Ta nga? = kenapa?
Di = kita
Hedai = daging
Ngallu = angin
Madda = Malam
Langganan:
Postingan (Atom)

