Kamis, 23 Juli 2015

PERSEKUTUAN


Persekutuan (Bersekutu) menjadi hilang maknanya dikalangan orang percaya. Datang beribadah disebuah tempat ibadah, atau di gereja, atau ke tempat komsel dan sejenis ibadah lainnya, namun sebagian besar jemaat ataupun para hamba Tuhan menajdi lupa makna sejati dari sebuah persektuan. dewasa ini, presekutuan hanya dijadikan tempat berkumpul, tempat menyanyi, bertepuk tangan, mendengarkan musik yang bagus, dan juga mendengarkan isi khotbah yang diberikan, namun mengabaikan arti persekutuan itu sehingga mereka kemudian pulang kembali dengan tidak mendapatkan apa-apa. Saya teringat dengan cerita Bapak Eka Darmaputera dalam bukunya yang berudul Dipilih Untuk Memilih. beliau menceritakan tentang gerejanya dikritik karena dianggap kurang persekutuan atau tidak memiliki persekutuannya. disisi lain ada juga sebagian jemaat-jemaat Tuhan mendambakan adanya persekutuan. Namun menjadi pertanyaan ialah sudahkah kita tahu persis apa itu persekutuan? sudahkah kita ketahui konsekuensinya persekutuan itu? oleh sebab itu sebagian orang akan terlihat lebih banyak berbicara, tetapi tidak tahu persis apa yang ia bicarakan. oleh karena itu, marilah kita bersama-sama memahami apa sebenarnya arti dari persekutuan itu.
Didalam Bahasa Yunani, yaitu bahasa asli kitab Perjanjian Baru kalimat ini kita temukan dalam arti Koinonia. Kata Yunani κοινωνια – koinonia (feminine noun) berasal dari: κοινη – KOINÊ, dari kata dasar κοινος – KOINOS yang artinya “common/ umum” (kesamaan), adjektiva. Kata KOINONIA tidak terbatas pada satu pengertian saja, melainkan mempunyai arti yang luas sesuai keadaan yang berlaku pada waktu dan situasi tertentu. Penjelasan dibawah ini akan menjabarkannya lebih jelas.
Kata KOINÊ sesuai yang dijelaskan di atas, adalah sesuatu yang sama dan menyatukan, common. Sejumlah orang berkumpul untuk mendapatkan manfaat bersama disatukan oleh suatu kepentingan bersama. Dari istilah KOINÊ kemudian muncul Istilah koinonia. Kata Koinonia itu dahulunya biasa dipakai dalam kemasyarakatan orang-orang Helenis yaitu tentang hal kebersamaan/ kesamaan terhadap kesenangan mereka berkumpul di teater. Teater bagi mereka sekaligus merupakan lukisan kehidupan mereka. Bahkan kata “teori” berasal dari kata “teater” dalam bahasa mereka. Mereka menemukan “common” (kesamaan) yang membentuk Koinonia melalui teater. Teater menyatukan orang berkumpul sebagai penonton, penyaksi, orang yang melihat. Mereka disatukan dalam suatu pertunjukan. Mereka berkumpul, duduk, lalu dengan mata yang melihat, mereka menemukan kepentingan yang sama di dalam teater, dan menikmatinya bersama. Itulah asal istilah koinonia dalam masyarakat Helenis.
Dalam konteks persekutuan dalam beribadah maka kita mengartikannya juga sebagai Satu roh, kerinduan, semangat untuk memberi, untuk berbagi dengan kemurahan hati dengan orang lain. Kalau lawan kata persekutuan dalam bahasa indonesia mungkin kita akan mengartikannya sebagai perpecahan atau permusuhan. jika dalam bahasa Yunani maka kita menemukan kalimat pleonexia, yang berarti mengambil, merebut, meraup segala sesuatu dari orang lain untuk dirinya sendiri.
Oleh karena itu, kita perlu untuk memahami dengan benar makna persekutuan kita selama ini. mungkin kita juga bisa mehat makna persekutuan Rasul Paulus. itu merupakan sebuah contoh nyata yang diberikan Paulus bagi kita. ketika kita membaca Alkitab maka kita akan menemukan begitu dalam hati dan kerinduan Paulus kepada jemaat-jemaat binaannya, hingga ia mencucurkan air mata. menginginkan agar jemaat-jemaat tidak terpengaruh oleh ajaran-ajaran lain, Paulus juga selalu berdoa kepada jemaatnya. ini adalah sebuah persekutuan sejati yang Paulus berikan. ia tidak mencari keuntungan untuk dirinya sendiri, tetapi ia melayani, memberitakan Firman Tuhan, memberikan seluruh hati dan tenaganya untuk jemaat, bahkan ia mengatakan tidak ia anggap rugi.
lalu apa yang menjadi tujuan kita bersekutu selama ini digereja? apakah hanya datang lalu pulang begitu saja? merasa sudah memberikan persembahan yang besar kepada gereja Tuhan lalu pulang begitu saja tanpa ada persekutuan sejati yang diterima? ini adalah sangat disayangkan dan terjadi dikalangan keKristenan. persekutuan kita ialah memberikan hidup kita kepada orang lain, baik dari apa yang kita miliki, baik dari sikap kita, yaitu dari segenap hidup kita tanpa merasa kita dirugikan. kita kemudian membawa damai sejahtera, membawa sukacita dalam rumah Tuhan. orang lain jadi dberkati dengan melihat hidup kita. suasana ibadah yang menjadi satu roh dalam menyembah Tuhan. bukanlah persekutuan yang mendatangkan kedengkian, cemoohan diantar sesama jemaat, bukan persekutuan yang hanya datang namun tidak mengenal antara satu sama lain. Persekutuan kita ialah persekutuan yang didalamnya ALLAH turut hadir bersama-sama dengan kita, menyaksikan kesungguhan hati kita kepadaNya.  melihat tujuan hidup kita datang kepada_NYA.
oleh karena itu mari kita memiliki persekutuan yang benar dihadapan Tuhan, digereja kita, di ibadah komsel kita, dan dimanapun kita akan membawa kemuliaan ALLAH bagi orang lain. dan Berkat Keselamatan menjadi milik kita.
AMIN

KEKUDUSAN DAN KEBENARAN


Kita sering membicarakan tentang “KEBENARAN ALLAH dan KEKUDUSAN ALLAH”, namun sebagian besar orang akan menolak jika ia dikatakan “Orang Benar” atau “Orang Kudus”. hal ini tentunya tidaklah mudah untuk diterima oleh sebagian besar manusia. karena semua manusia akan berpikir dan beranggapan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, bahwa manusia cenderung berbuat dosa (memiliki potensi berbuat dosa atau memiliki natur dosa). Pemahaman ini disisi lain kelihatannya sangat lah benar. namun jika dilihat dari sisi Alkitab maka pandangan ini sangatlah bertolak belakang dengan Alkitab bahkan menyangkal apa yang telah Alkitab saksikan kepada kita.  Para pakar teologia telah memberikan banyak masukan dan ide-ide tentang penyelesaian dosa, namun sauatu kenyataan besar dan mulia mereka tidak dapat menerimanya. karna pemahaman dasar mereka ialah “Manusia tidak mungkin dapat hidup benar, manusia tidak mungkin dapat hidup kudus” karena manusia bukanlah manusia sempurna. ini merupakan konsep yang benar-benar mematikan. kelihatannya benar tapi pada dasarnya ialah suatu kesalahan yang mematikan. Alkitab dengan jelas tidak memberitakan bahwa manusia adalah manusia yang berpotensi berbuat dosa. tidak ada satupun Dogmatika yang dianjurkan oleh para penulis Alkitab bahwa manusia memiliki potensi untuk berbuat dosa, bahwa manusia sekalipun benar namun ia berkemungkinan besar untuk berbuat dosa, dikarenakan ia memiliki natur dosa. Kalau begitu, Dapatkah yang kudus sekaligus menjadi satu dengan Dosa? Dapatkah gelap dan terang bersatu? jika kita memiliki natur dosa, maka bukankah sedang mengidentifikasikan bahwa tidak ada kekudusan dalam diri orang tersebut? dalam Titus 1:15 mengatakan bahwa bagi orang yang  suci semuanya suci, bagi orang yang najis dan tidak beriman, tidak ada satupun yang suci, karena hati nurani mereka dan pikiran mereka tercemar oleh kenajisan.
Rasul Paulus dalam kitab Roma memberikan penjelasan panjang lebar tentang dosa, tentang bagaimana dosa maasuk kedalam dunia melalui sato orang, kemudian bagaimana dosa itu digambarkan sebagai MAUT (kematian) yang dimana akibat dosa ini manusia tidak memiliki jalan kepada ALLAH, tidak lagi memiliki hidup kekal, namun selanjutnya ada harapan yang diberitakan, yaitu Yesus (adam terakhir) yang datang menyelesaikan dosa umat manusia. menebus manusia dari dosa, sehingga kita dikuduskan, dibenarkan kemudian kita dimuliakan menjadi kemuliaan ALLAH. maka kita kemudian memperoleh identitas baru didalam Kristus. setiap orang percaya dibenarkan. bahkan sampai akar2 dosa, Yesus selesaikan semuanya dikayu salib, dan bukti kemenangan-Nya ialah Yesus mati dan bangkit kemudian ia terangkat dalam awan kemuliaan BAPA. ini adalah sebuah berita sukacita. maut telah dikalahkan oleh Yesus Kristus. melaluiNya kita memperoah identitas baru yaitu “Kekudusan dan Kebenaran” itu.
Oleh sebab itu, berita ini tentunya adalah berita sukacita yang paling besar yang kita terima didunia ini. kematian Yesus ternyata tidak hanya cukup dikayu salib saja, tetapi identitas baru Ia berikan (Efesus 1:3-8).  Ada satu berita yang paling penting untuk diketahui ialah, bahwa kita adalah ANAK ALLAH, kita LAHIR DARI ALLAH (we born of God). kita disebut anak Allah. (1 Yoh 3:1-2).
Karena itu, janganlah kita menajdi terkecoh oleh pemahaman-pemahaman filsafat dunia. himat dunia adalah suatu kebodohan dimata ALLAH (1 korintus 2:4-5). jadi jangan dipengaruhi oleh hikmat dunia. Back to the Bible, Lihat isi didalamnya. didalamnya tertulis isi hati ALLAH tentang kita. ALLAH sedang memberitahukan tentang siapa kita sebenarnya dimata-Nya. mengapa kita terlalu memusingkan apa yang dunia berikan namun apa yang ALLAH katakan kita menolaknya?. kita harus mengingat bahwa kita adalah Man Of God. Kita bukanlah dari dunia ini, kita adalah lahir dari ALLAH 1 Yoh 3:9, benih ilahi ada didalam kita.
Mengingat apa yang telah dibahas diatas tentang konsep “Natur Dosa”, bukanlah sebuah pemahaman yang benar. sebab Alkitab tidak mencatatnya. kita harus kembali melihat kepada Alkitab. Alkitab memberitahukan identitas kita yang sebenarnya bahwa kita adalah orang kudus. Mazmur 119:105 mengatakan bahwa Firman adalah pelita dan terang bagi jalanku. kemudian sangat singkron dengan Yesus adalah terang itu sendiri (Yohanes 8:12;9:5) selanjutnya dalam 12:35 mengatakan bahwa terang itu ada pada kita.
saya teringat ketika saya dikampug dimana daerah saya tidak terjangkau oleh listrik, sehingga untuk pergi beribadah kami harus menggunakan senter. ketika kami menyalakan senter itu, kemudian senter itu menyala yang membuat kami akan terus berjalan melalui terang itu. kemana kami menerangi cahaya senter itu dalam kegelapan, demikianlah kami berjalan mengikutinya. begitu pulalah yang pemazmur berikan bahwa, Firman-mu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. apa itu Firman, Yohanes 1:1 mengatakan Firman itu adalah Yesus sendiri, dan Yesus adalah terang kita, sehingga Yesus menerangi jalan kita. namun belumlah bagian yang paling pucak, dikarenakan dalam hal ini Yesus masih berjalan didepan kita. namun apa yang Alkitab katakan, “Kita adalah terang dunia”. dan alkitab juga memberitakan bawa kita adalah Lahir dari ALLAh. kita berdiam didalam YESUS dan YESUS didalam kita. sehingga terang itu bukan lagi berada didepan kita, tetapi kita telah mengenakan terang itu. sehingga gelap tidak lagi menguasai hidup kita.
Demikianlah halnya dosa dan KEKUDUSAN itu. YESUS adalah kekudusan itu, dan kita telah mengenakan Kristus dalam hati kita, sehingga hati kita menjadi terang sepenuhnya. menjadi terang seluruhnya. sehingga dosa tidak lagi menguasai kita. maka genaplah makna kematian Kristus bagi orang percaya. bahwa benar2 Kristus telah mati untuk menyelesaikan dosa-dosa kita.
kalau kita membuat dalih bahwa tidak mungkin kita dapat hidup kudus, maka kita sedang menolak berita yang ALLAh buat sendiri bahwa kita adalah orang-orang kudus kepunyaan_Nya sendiri. perlu kita ketahui tentang kalimat HABITAT. untuk seekor ikan yang pada dasarnya hanya bisa hidup di air, maka habitatnya ialah air. demikianlah kita, jika kita mengaku anak ALLAH dan lahir dari Allah  maka ia harus mengakui bahwa ia memiliki identitas ilahi dari ALLAh bahwa habitatnya adalah habitat Ilahi. yang berasal dari ALLAH. bukan dari dunia. itulah sebabnya ALKITAB mengatakan DUNIA AKAN MEMBENCI KAMU karena KITA BUKANLAH DARI DUNIA.
oleh sebab itu kita harus hidup dengan cara-cara kerajaan ILAHI, mental kekudusan. hanya orang kudus yang dapat hidup kudus. hanya orang berdosa yang dapat berbuat dosa.  Karena itu, cara pandang kita akan Firman Tuhan perlu dirubah dengan cara-cara Ilahi. yaitu membacakan firman Tuhan, menerima sebagai sebuah kebenaran mutlak, menghidupi mnjadi realita bagi hidup kita sehingga Firman itu benar-benar menopang hidup kita. karena tidak mungkin kita percaya Firman tuhan kemudian Firman itu menuntun kita untuk berbuat dosa.
Dosa adalah Ketiadaan Tuhan dalam hati kita

Minggu, 12 Juli 2015

Percaya Dengan HAti

Fakta hidup kebanyakan umat TUHAN menunjukkan, bahwa apa yang dikatakan dalam Alkitab, FIRMAN TUHAN, dengan kehidupan pribadi umat TUHAN tersebut masing-masing secara pribadi adalah dua hal yang tidak memiliki koneksi yang berarti, bahkan bertolak belakang satu sama lain. Keadaan ini sangat memprihatinkan dan berbahaya. Namun oleh karna belum dan tidak menemukan contoh ada orang yang mengalami realita hidup sesuai dengan FIRMAN TUHAN, atau oleh sebab-sebab lain yang senada, membuat mereka tidak ingin menemukan ‘solusinya’. Tentu, keadaan yang demikian tidak boleh kita biarkan, melainkan kita harus berdoa dan berusaha untuk menemukan ‘jawabannya’. Dan inilah jawabannya: Salah satu penyebab persoalan tersebut adalah FIRMAN TUHAN atau Alkitab yang kita baca dan yang kita dengar, tidak dibaca dan didengar dengan ‘hati’. ‘HATI’ di sini sama dengan ‘roh’ kita atau dengan kalimat lain, apa yang kita baca dan dengar dari FIRMAN TUHAN tidak diterima dengan segenap hati. Memang pembacaan dan pendengaran kita membuat kita bertambah secara pemahaman dan kita bertambah dalam ‘pengetahuan’ Alkitab.

Namun antara bertambahnya pengetahuan Alkitab dengan bertambah dalam iman adalah dua hal yang berbeda. Memang ada hubungan diantara keduanya, namun secara prinsip keduanya sangat berbeda. Perbedaan itu terletak pada hasil akhir yang diperoleh masing-masing, yang satu mengalami ‘realitas FIRMAN’ atau ‘realitas TUHAN’, sedang yang lainnya tidak, selain ‘kesombongan’ belaka. Kalo begitu, pertanyaan pentingnya adalah ‘apa yang membuat pendengaran atau penerimaan dengan hati itu menjadi sangat berdaya guna terhadap FIRMAN yang didengar?’ Pertama, Essensi FIRMAN TUHAN yang kita baca atau yang kita dengar dari Alkitab adalah ‘bersifat rohani’ atau ‘Roh dan hidup’ adanya (Yohanes 6:63). Ini memberi implikasi yang sangat penting, maksudnya FIRMAN tersebut hanya bisa ‘beroperasi’ dengan sepenuhnya apabila diterima dengan ‘segenap hati’ atau ‘dengan roh’ kita, artinya ‘dengan kemauan dan keputusan yang bulat’. Karna FIRMAN itu Roh dan Hidup, kita harus menerima-Nya dengan roh atau dengan hati kita (ingat, hati adalah kesadaran tentang diri sendiri). Di situlah FIRMAN TUHAN mendapat tempat yang semestinya untuk bertumbuh dan berbuah. ‘Bertumbuh’ di sini artinya FIRMAN itu menyatu dan mendominasi hidup kita (selama seseorang mempertanyakan FIRMAN yang dibaca atau yang didengar, berarti FIRMAN tersebut belum menyatu dan mendominasi dirinya). Berbuah artinya: membawa ‘perubahan hidup’ yang nyata. Hal itulah yang menjadikan kita ‘saksi-saksi-Nya’ TUHAN, bukan hanya bersaksi dengan lisan saja. Kedua, FIRMAN TUHAN adalah kebutuhan vital hidup kita yang melebihi kebutuhan jasmani kita akan makan dan minum (Matius 4:4). Prinsip ini harus kita sadari dan terima sepenuhnya, sehingga kita tersadarkan akan ketergantungan penuh kita kepada FIRMAN TUHAN untuk hidup. ‘Ketergantungan penuh’ ini akan ditandai dengan adanya ‘keterbukaan dan rasa lapar’ akan FIRMAN TUHAN tersebut. Orang yang hidup bergantung kepada FIRMAN TUHAN adalah orang yang ‘menggunakan’ FIRMAN TUHAN untuk hidup melebihi orang-orang dunia menggunakan fasilitas di dunia ini untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Ketiga, percaya dengan hati di sini sama dengan ‘hidup berdasarkan iman’; maksudnya keyakinan terhadap apa yang FIRMAN TUHAN katakan itu ‘benar sepenuhnya’ adalah modal dasar yang harus kita miliki untuk memasuki realita FIRMAN TUHAN tersebut (1 Tesalonika 2:13). Akhirnya, manusia Allah Yang Perkasa fokuskanlah hatimu sepenuhnya kepada TUHAN dan FIRMAN-NYA, karena itu adalah kebutuhan hidup kita yang vital dan sesungguhnya, amin.

Senin, 30 Juni 2014

NABI NUH


Nuh adalah anak laki-laki Lamekh, yang dilahirkan pada saat Lamekh berumur 182 tahun. Ia dilahirkan  1.056 tahun setelah Adam. Menurut cerita Legenda air bah, hanya Nuh dan keluarganya dari seluruh umat manusia yang hidup saat itu yang selamat dari banjir bersar yang melanda bumi (Kej 6-9). Demikian menurut pilihan Allah karena kebaikan perilaku hidup Nuh (Kalaupun tidak seterusnya dipertahankan, Kej 9:21). Di dalam bahtera dimana keluarga Nuh  berkumpul, ada juga pasangan-pasangan (menurut sumber *P)[1] dari berbagai jenis makhluk hidup[2]. Dari 10 Generasi setelah Adam, Nuh adalah orang ketiga yang memiliki umur terpanjang mencapai 950 tahun. Namanya juga tercatat dalam silsilah Yesus di Lukas 3:36.
Nama Nuh berasal dari bahasa Ibr “Noah”, yang berarti “hinggap”, menetramkan, “berhenti”, atau “istrahat” (2 Raj 2:15; Rat 5:5; Ul 5:14),. Arti nama Nuh berdasarkan asal kata tersebut adalah “sabat”, ‘istrahat’ dan ‘penghiburan’. Alkitab hanya mencatat bahwa Nuh memiliki 3 orang anak yaitu Sem, Ham dan Yafet. Yang dilahirkan setelah Nuh berumur 500 tahun sebelum air bah terjadi. Ketika Sem berusia 100 tahun, 2 tahun setelah air bah ia dikaruniakan Arpakhsad. Oleh karena itu Sem hanya berusia 98 Tahun ketika banjir datang. Ham dikatak sebagai yang termuda.
            Nuh di gambarkan sebagai orang yang benar[3] diantara orang-orang lain yang hidup di jamannya. Kej 6:8 mencatat “tetapi Nuh mendapat Kasih karunia di mata Tuhan”. Dalam Kej 6:22 mungkin juga hanya menyebut perjanjian yang di buat Allah dengan Nuh, sesudah air bah dan dimeteraikannya dengan menganugerahkan arti baru atas pelangi (Kej 9:9-17 bnd Yes 54:9)[4]. Pada saat itu manusia hidup bergelimang dosa sehingga Allah memutuskan untuk menjatuhkan hukuman dengan bersabda “Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi”. Akan tetapi Allah tidak menghancurkan segala-galanya. Dia memerintahkan Nuh untuk membangun sebuah bahtera besar untuk menyelamatkan sebagian makhluk ciptaan-Nya.
            Setelah bahtera itu selesai, kitab Kejadian menggambarkan bahwa air bah merendam bumi selama 150 hari lamanya dan setelah itu air bah mulai surut. Nuh menunggu hingga bumi benar kering sebelum membuka pintu bahtera. Nuh kemudian keluar bersama denga keluarga dan bersama semua binatang yang ada didalam bahtera tersebut.  Nama istri Nuh tidak disebut di dalam Alkitab, menurut kitab Yobel[5] Namanya adalah Emzara. Tradisi Yahudi menulis nama Istri Nuh adalah Naama (atau Naamah), Putri Lamekh dan saudara perempuan Tubal-Kain. Demikian pula komentator Alkitab Ibrani, Rashi yang hidup pada abad ke-11 M, dalam komentarinya mengenai Sefer Bereishis 4:22. Sebuah Midrasih[6] dari abad pertengahan, yang dikenal sebagai kitaYasar ( Book of Jasher 5:15), juga menuliskan nama istri Nuh adalah Nuh adalah Naamah, putri Henokh.
            Setelah Nuh di selamatkan, Allah mengadakan perjanjian[7] dengan Nuh dan memberkatinya. Inilah perjanjian yang pertama dikenal dan bersifat universal karena meliputi seluruh umat manusia. Di kemudian hari, Allah mengadakan perjanjian pula dengan Abraham, tetapi perjanjian itu dianggap bersifat lebih khusus.




[1] Priestly Source, yang oleh mayoritas ahli PL dipandang sebagai salah satu dari keempat sumber bahan utama dari “pentateukh”. Bahan P dikenali karena perhatian utamanya untuk hal-hal ritul dan  selalu mengutamakan Harun.  P mempunyai doktrin tentang kejadian yang menampilkan Allah yang berkuasa atas semua bangsa di dunia, dimana Abraham dan keturunannya mempunyai suatu peran yang istimewa.
[2][2]W.R.F  Browning, Kamus Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia 2008.
[3] Tsadiq, yang memiliki kebenaran itu yang bersumber dari iman (Ibr 11:7 he kata pistin dikaiosyne, harfiah’ kebenaran sesuai dengan Iman) dan mempunyai persekutuan dengan Allah seperti dinyatakan oleh uraian “dia hidup bergaul dengan Allah” (Kej 6:9)
[4][4][4] Ensiklopedia Masa Kini, Jili 2, (Yayasan Komunikasi Bina Kasih)
[5]Di dalam kanon Gereja Ortodoks Ethiopia.
[6] Midrasih, adalah sebuah cara menafsirkan Alkitab  di luar pengajaran, hukum atau moral yang sederhana. Digunakan untuk mengisi sejumlah kekosongan dalam cerita Alkitab mengenai suatu peristiwa atau penjelasan mengenai pribadi yang hanya disinggung sedikit.
[7]Kej 6:18 Dapat ditafsirkan bahwa keselamatan untuk Nuh tergantung pada kesediaannya membangun bahtera dan memasukinya, syarat yang dipenuhinya (Kej 6:22)

Konsistensi Allah


Khotbah Pdt. Bun Min Tat, S.Th
Gembala sidang GBI Glory United Gajah Mada Plaza

            Salah satu penyebab yang paling prinsip yang membuat umat Tuhan tidak bersedia mempercayai Tuhan dengan teguh adalah adanya persepsi yang salah tentang pribadi Allah. Persepsi yang salah tersebut adalah bahwa Tuhan tidak konsisten dengan apa yang telah Ia katakan sebelumnya. Hal ini memang tidak tercetus secara langsung, tetapi dalam sikap dan tindakan sehari-hari terbukti  ketika mereka tidak bersedia berpegang teguh pada apa yang telah Tuhan sampaikan dalam FirmanNya. Ini senada dengan menyepelakn Alkitab, ketika mereka tidak bersedia menerima apa yang telah disampaikan kepada mereka. Khususnya berkenaan dengan segala apa yang telah Tuhan Yesus lataan dan yang telah kerjakan bagi kita.
            Persepsi yang saah tersebut juga terlihat ketika seseorang tidak bersedia menerima sepenuhnya, bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan yang benar sepenuhnya. Maksudnya, mereka masih memiliki keraguan dengan apa yang telah tercatat dalam kitab suci tersebut. Mereka cenderung meilainya sebagai pandangan atau pendapat para penulis Alkitab belaka, maksudnya para murid Tuhan Yesus. Tentu, pandangan atau penilaian yang demikian terhadap Firman Tuhan, Alkitab, adalah pandangan yang salah sepenuhnya. Inilah salah satu perintang terbesar yang menghalangi mereka mengaami realita Firman Tuhan tersebut.
Namun sebaliknya apabila kita sepenuhnya percaya dan menerima apa yang Firman Tuhan katakan dalam Alkitab, kita dipastkan mengakui, bahwa Tuhan benar sepenuhnya, demikian juga dengan segala yang telah dikatakanNya dalam Alkitab. Dan sebagai dampaknya, kita pasti mengalami realita yang telah Tuhan sampaikan dalam Firman-Nya tersebut. Inilah yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam 1 Tesalonika 2:13, “Dan karena ituah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perataan manusia, tetapi—dan memang sungguh-sungguh demikian—sebagai firman Allah, yang bekerja juga didalam kamu yang percaya”.
            Percaya dan menerima sepenuhnya apa yang Firman Tuhan katakan itu tidaklah berarti, bahwa kita tidak boleh menyelidiki Alkitab itu dengan rasio atau dengan pikiran kita. Kita memang harus menggunakan rasio kita dengan maksimal untuk membaca dan menyelidiki Alkitab kita masing-masing. Namun hal yang paling prinsip yang harus kita ketahui adalah, bahwa kita harus terlebih dahulu bersedia menerima segala hal yang telah Tuhan Yesus perbuat dan yang telah diselesaikanNya bagi kita lewat kematian dan kebangkitan-Nya, tanpa keraguan sedikitpun. Inilah yang saya maksudkan, dengan percaya dan menerimaNya sepenuhnya apa yang Firman Tuhan katakan tersebut. Karena “Kabar Baik” yang disampaikan kepada setiap orang, yaitu Injil Kristus, adalah keputusa final dari Kerajaan Allah yang mutlak mengikat setiap manusia yang ada.
            Ketika seseorang bersedia menerima hal tersebut dan malah mempertanyakan dan memperdebatkannya, maka sesungguhnya ia bukanlah orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus. Camkan hal ini baik-baik ! Kalau ia masih tetap mengakui bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Tuhan, maka ia hanyalah orang yang beragama saja, yang pada hakekatnya memungkiri kekuatan ibadahnya (2 Tim 3:5).
            Allah yang kita kenal dan yang kita sembah dan yang kita layani dalam Tuhan Yesus Kristus adalah Allah yang paling konsisten dengan segala yang Ia katakan dan perbuat. Hal ini terlihat dengan jelas dari masa PL sampai kepada kita di masa  PB. Bahkan terlebih lagi, Ia melakukan yang melampaui apa yang dapat kita pikirkan, yaitu membawa kita yang sepenuhnya percaya dan menerima-Nya kepada kesempurnaan dalam Kristus (Kol 1:28-29). Ia menjanjikan keselamatan di masa lampau, Ia menggenapi dan menyempurnakannya di masa PB. Ia menjanjikan tanah Kanaan duniawi kepada Israel jasmani, ia memberikan tanah Kanaan Sorgawi kepada Israel Rohani. Adam pertama membawa kematian, Adam terakhir yaitu Kristus membawa kehidupan. Dalam Adam, kita telah kemuliaan Allah, dalam Kristus kita memperoleh kemuliaan Allah. Karena kejatuhan Adam, dosa menguasai manusia, karena kebangkitan Kristus kita hidup dan memerintah. Melalui Adam kita lahir ke dunia ini, melalui Kristus kita dilahirkan dari “Dunia Atas”, Sorga. Oleh Adam, kita menjadi penghuni di bumi ini, oleh Kristus kita adalah warga Kerajaan Sorga. Jadi, konsistensi-Nya melampaui segala hal yang dapat dibayangkan dan pikirkan.



Senin, 16 Juni 2014

HIdup Dalam Kebenaran Firman

Hidup Dalam Kebenaran Firman
Oleh: Kirenius Wadu

Pendahuluan
            Berbicara mengenai kebenaran Firman Tuhan, semua orang Kirsten akan mengatakan bahwa Firman Tuhan itu benar adanya. Firman itu hidup dan Firman itu penuh kuasa, entah kuasa dalam menyembuhkan, memberi kekuatan, kuasa untuk mengenal Allah melalui CiptaanNya dengan membaca sejarah Alkitab dari Kitab Kejadian, berkuasa untuk menuntun setiap orang yang percaya untuk tetap beriman kepada Allah.
            Namun terkadang ada begitu banyak orang-orang Kristen yang sangat sedikit memahami kebenaran Firman Tuhan, yang hanya membacanya sambil lalu dan melewatinya begitu saja, membaca hanya untuk mengetahui fakta sejarah saja, yang kemudian membuat mereka tidak ada bedanya dengan orang-orang Farisi yang tahu kebenaran namun tidak melakukannya. Tidak banyak yang dapat memaknai Firman Tuhan itu sebagai suatu kebenaran yang hidup, penuh kuasa yang sanggup membuat mereka dapat hidup benar karena mereka memelihara Firman itu dan begitu juga Firman itu dapat memelihara mereka.
ISI Firman
            Itulah sebabnya begitu banyak orang kuatir akan hidupnya, merasa Tuhan tidak ada, ketika menghadapi masalah seolah-olah mereka ditinggalkan Tuhan. Orang-orang yang seperti ini bisa dikategorikan dalam bentuk bayi Rohani. Jika ia sudah memulai pelayanan bertahun-tahun namun tidak ada perkembangan mengenai kedewasaan Rohani, kemungkinan ia belum dapat menyerap Firman itu dalam dirinya, bahkan ia belum menghidupkan Firman itu sendiri. Padahal Yesus sendiri mengatakan bahwa jangan kuatir akan apa yang kamu makan, atau yang kamu makan dan apa yang kamu minum, sedangkan burung diudara yang tidak bekerja saja Tuhan tetap pelihara, namun mengapa manusia perlu kuatir? Bukankah kita manusia yang melebihi burung-burung diudara? Kalimat “jangan” dalam perkataan Yesus tadi merupakan kalimat perintah langsung kepada kita. Bila perlu tidak ada kekuatiran dalam hidup kita, asalkan kita memiliki keteguhan dalam memelihara kebenaran Firman Tuhan.


Mari  kita kembali dan melihat topik yang terdapat diatas yang menjadi pembahasan kita: hidup dalam kebenaran Firman. Apa yang membuat kita bisa tetap hidup dalam kebenaran Firman Tuhan? Dan mengapa kita harus hidup dalam kebenaran Firman Tuhan? Atau bagaimana caranya agar kita hidup dalam kebenaran Firman itu?
1.      Percaya akan Firman itu ( Yoh 1-5) : terlebih dahulu kita harus memaknai maksud dari kebenaran-kebenaran yang ditulis disini. Percaya artinya tidak hanya sekedar ucapan dimulut saja, namun kita harus menerima dan memelihara Firman itu menjadi suatu kebenaran yang dapat menghidupkan kita, kemudian memakan firman itu agar kita dikendalikan oleh Firman Tuhan. Firman Tuhan itu akan dapat mengendalikan setiap kehidupan orang-orang yang memelihara Firman Tuhan. Pemazmur mengatakan bahwa “Diberkatilah setiap orang yang merenungkan Firman itu siang dan malam. Jadi Firman itu tidak sekedar kita mempercayai begitu saja, tetapi mengimani dengan penuh keyakinan teguh kepada Allah. Sebab Firman itu Adalah Yesus sendiri (Yoh 1: 14) bahkan diam diantara kita.
2.      Hidup dalam Firman itu sendiri (1 Yoh 1:7): akibat dari hidup dalam Firman itu ialah kita mendapat persekutuan seorang akan yang lain, dan bahkan menyucikan kita dari segala dosa melalui darah Yesus Kristus sendiri. Firman itu adalah terang, yang dapat memampukan kita menjadi anak2 terang (Mat 5:13-16) sama seperti Yesus adalah Terang itu sendiri. Dengan begitu semua orang akan melihat bahwa ooooh benar bahwa orang ini adalah hidupnya benar. Menjadi berkat bagi banyak orang, dan melalui kita, terang yang ada dalam hidup kita, orang dapat melihat Yesus Kristus itu sendiri yang merupakan sumber terang sejati bagi kehidupan manusia.
3.      Tidak lagi mengasihi Dunia (1 Yoh 2 15) : mengapa demikian ? mengapa tidak boleh mengasihi dunia? Jika kita memahami dengan benar bahwa hidup kita ini merupakan hidup yang sudah ditebus dengan darahNya yang mahal, tentunya kita sebagai orang percaya tidak lagi dapat hidup hanya untuk mengasihi dunia dan segala yang ada di dalamnya. Mengapa? Karena kita ini anak-anak Allah, kita lahir dari Allah. Dan sebagai gelar kita sebagai anak-anak Allah kita wajib hidup sama seperti Kristus hidup (1  Yoh 2 : 6). Rasul Paulus juga menekan bagaimana kehidupan orang setelah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya. Bagaimana ia menasehati jemaat yang ada diroma untuk tidak lagi hidup dalam dosa mereka bahkan jangan membiarkan dosa itu menguasai mereka (Rom 5:12) karena kita telah mati bagi dosa. Jika kita masih berkompromi dengan keinginan daging kita maka hukuman kekal yang akan kita dapat ialah “Maut” sebab keinginan daging merupakan perseteruan dengan Allah, bahkan mereka yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepaada Allah (Rom 8:8).
Kesimpulan:
Oleh sebab itu kita harus menyadari penuh hidup kita di hadapan Allah. Jangan lagi kita memperhambakan diri kepada dosa-dosa kita, sehingga dosa itu akan terus mengikat kita dan membuat kita susah untuk berubah dan hidup dalam kebenaran Firman itu sendiri.  Tetapi kita mamu membiarkan Firman itu hidup dalam hati, pikiran bahkan seluruh hidup ini. Kita harus memiliki paradigma anak-anak terang yang telah ditebus, berani mengatakan saya adalah anak Allah. Saya telah dikuduskan, disucikan menjadi ciptaan yang baru. Rasul Paulus mengatakan bahwa hidupku bukannya aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Ini menyatakan bahwa ketika kita sepenuh nya hidup dalam Firman itu, maka Firman itu akan mengendalikan kita, dan mampu membuat kita bertahan untuk dapat hidup didalamnya. Firman itu hidup dan sanggup mengubah totalitas hidup kita.
Aplikasi:
Bagaimana dengan kita saat ini, masihkah kita mau berkompromi dengan dosa kita, beribadah namun kita munafik dihadapan Tuhan, tidak mau hidup benar? Tentunya kita menginginkan hidup kita kelak ada bersama-sama dengan Allah dalam kerajaan Sorga yang kekal itu dimana didalam terdapat sukacita dan damai sejahtera yang bersar dari Allah Bapa kita. Biarkan Firman itu tertanam setiap hari dalam kehidupan kita, agar orang-orang akan melihat hidup kita, dan mereka dapat diberkati dan dapat mengenal bahkan memercayai Yesus Kristus.
      Mari kita tidak sekedar melayani Tuhan dihari-hari yang sudah ditetapkan, tetapi kita diajarkan untuk melayani Dia sepanjang hidup kita, melayani Dia dalam Roh dan Kebenaran, yaitu melayani Dia dengan hidup kita yang benar, yang telah diubahkan, yang telah dimerdekakan dari doda menjadi anak-anak kepunyaan Allah.
Amin…!

Tuhan Yesus Memberkati

Senin, 05 Mei 2014

Menguasai Anggota Tubuh

Ketidakpengertian terhadap sebuah kebenaran akan membuat kita sulit dan bisa salah menerapkan atau mengenakan kebenaran tersebut. Itulah sebabnya memahami kebenaran Firman Tuhan secara tepat dan benar sangatlah penting bagi terwujudnya pengalaman hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan tersebut.  Demikian juga ketika kita membaca Alkitab yang berisi perintah bagi kita untuk dilakukan, kalau kita tidak memahami perintah atau Firman Tuhan tersebut, Tentu hal ini tidak akan berhasil, karena untuk bisa memenuhi atau menuruti Firman Tuhan tersebut, maka kita akan berusaha dengan kemampuan kita sendiri untuk memenuhi perintah Tuhan atau Firman Tuhan tersebut. Tentu hal ini tidak akan berhasil, karena untuk bisa memenuhi dan menuruti Firman tersebut, dibutuhkan kehidupan Ilahi untuk menggenapinya. Disinilah letak pentingnya untuk memahami Firman Tuhan itu secara tepat dan benar. Firman Tuhn yang dipahami dan diterima degan tepat dan benar akan membawa kita masuk kepada kasih karunia Tuhan itu sendiri. inilah yang menyanggupkan kita memenuhi atau hidup sepadan dengan Firman Tuhan itu sendiri.
            Dari penjelasan diatas, hendaknya kita memahami bagaimana menguasai seluruh anggota tubuh kita. Alkitab berkata: “serahkanlah anggota-anggota tubuhmu untuk dipakai sebagai senjata-senjata kebenaran” (Roma 6:13b). Kalau Firman tersebut dipahami secara terpisah dari anugerah sebelumnya yang dijelaskan dari ayat 1 dari pasal 6 tersebut akan membuat kita  mengalami kesulitan untuk menguasai anggota-anggota tubuh kita, karena kita cenderung untuk menggunakan kemampuan diri sendii, tanpa mengandalkan anugerah yang telah diberikan kepada kita.  Disinilah letak kesalahan dan kegagalan setiap anak-anak Tuhan untuk menguasai seluruh anggota-anggota tubuhnya.

            Kesalahan berikutnya ialah adanya kebingungan dalam memahami antara apa yang telah Tuhan selesaikan bagi kita dengan bagian yang menjadi wewenang kita. Maksudnya, Tuhan Yesus telah menyelesaikan seluruh karya untuk memerdekakan kita dari dosa disatu sisi, tetapi disisi lain kita diperintahkan untuk mematikan perbuatan-perbuatan dosa. Disatu sisi, Firman Tuhan mengatakan, bahwa tubuh dosa kita telah hilang kuasanya, karena telah disalibkan bersama dengan Kristus; tetapi disisi yang lain kita diperintahkan untuk mematikan dalam diri kita segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala; membuang marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut (kolose 3:5,8). Bagaimana memahami dan mengatasi jurang pemisah antar kedua hal tersebut. Hal ini hanya terletak kepada kesalahpahaman antara apa yang menjadi wewenang Allah dengan apa yang menjadi wewenang kita. Hal ini telah Allah selesaikan dengan tuntas didalam Tuhan kita, Yesus Kristus. Sedangkna mengendalikan dan menguasai seluruh anggota tubuh kita dan tindakan kita adalah diri kita sendiri. maksudnya ialah kitalah yang harus mengambil keputusan dan memerintahkan anggota-anggota tubuh kita untuk melakukan apa yang Allah kehendaki. Karena hal tersebut ada diwilayah kewenangan kita, bukan Tuhan; bukan Tuhan yang mengambil keputusan untuk kita, melainkan kitalah yang harus mengambil keputusan dan tindakan agar dilakukan oleh anggota-anggota tubuh kita. Tentu, ini dilakukan dengan kesadaran bahwa kita ada didalam anugerah Allah bekerja didalam kita. Filipi 2:13 berkata : Karena Allah yang mengerjakan didalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” dan lagi Roma 8:13 berkata, Sebab jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup”.  Jadi antara anugerah Tuhan dengan tindakan kita harus selaras; anugerah mendahului tindakan, bukan sebaliknya.